Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sahabat. Tampilkan semua postingan

ANGIN MAMMIRI




Oleh Niang Kuneng


Aku adalah perempuan angin. Sore itu, aku bersama teman-temanku yang juga angin, bercakap-cakap tentang cerita angin.
“Aku sudah menunggu lama disini. Apa kau sudah menyampaikan kepadanya?”
“Voicenote-[1]mu telah kusampaikan. Tak ada satu kata pun yang kuhilangkan.”
“Benarkah itu? Tapi kenapa ia belum membalasnya?”      
“Entahlah. Aku bersumpah. Aku telah menyampaikannya.”
“Aku percaya itu. Mungkin saja dia belum sempat mendengarkannya.”
            Temanku itu adalah angin jantan. Selalu kukirimi voicenote cinta melalui perantara. 
Aku tertegun, dan mulutku memulai berhikayat.
 Ingin rasanya menjadi angin betina yang mampu menyebar kedinginan.  Agar dia mampu merasakan suhuku. Sudah lama, lama sekali aku menderita karena kerinduanku padanya.
            Angin jantan meninggalkanku tanpa sesal. Indra penciumanku tak pernah lagi merasakan aromanya. Wahai angin jantan, menolehlah ke arahku kembali.
* * *
Aku dilahirkan menjadi  wanita penantian.
Buat mirat nafas, senada bukan nyanyian.
Cintalah, menuju nafas takkan kau telan.
Demi nafas, seujung dera  penghabisan.
Engganmu asin.
Fatamorgana, kalung-mengalun pelan.
Gurat nadi tak lagi dipalangi angan.
* * *.
Dialog dulu terputar kembali.
“Aku mau jadi angin. Aku tak sanggup menjadi ranting di pohon ayah lagi.”
“Tidak boleh. Kau akan dimurkai Tuhan, Nak”
“Aku tidak peduli. Pokoknya aku harus menjadi angin.”
“Jika kau memilih menjadi angin, kau akan menampung dosa yang lebih banyak.”
“Aku lelah menjadi ranting. Aku selalu terdiam kaku menyaksikan aksi-aksi anak remaja di bawah naungan Ayah. Mereka selalu bermesraan. Tanpa ada rasa malu, padahal kelakuan mereka ada yang melihat. Terkadang juga ada ibu yang mengubur anaknya di bawah naungan ayah. Tanpa penyesalan sedikit pun.”
            “Meskipun begitu, kitalah pohon yang dipercayai Tuhan untuk menjaga makhluknya.”
“Tapi, aku selalu memendam rasa penyesalan karena perbuatan mereka. Pohonlah yang menanggung dosa. Aku harus jadi angin, Ayah.”
“Angin itu jahat, Nak.”

Itulah permintaanku. Dan, pohon itu ayahku. Akar itu Ibuku. Pohon yang menyelamatkan manusia, angin yang ingin menghancurkan manusia. Karena angin tak tahan melihat manusia yang terus-terusan berbuat dosa. Setiap detik aku berdoa kepadaNya untuk menjadi angin.
            Sampai akhirnya, pada suatu malam datanglah segerombolan angin yang  memutar-mutar ke badanku. Aku terjatuh kemudian menjadi debu. Setelah diangkat oleh segerombolan angin aku berubah menjadi partikel-partikel kecil semacam atom yg tak kasat mata. Aku yang dulunya ranting kini menjadi angin.

***
Aku wanita penghitung hujan.
Bukan penyimpan deran.
Coreng-moreng menyamun.
Deraianku tak kau pedulikan.
Elang ingin menjadi hablun.
Fitosanitasi yang kau inginkan.
Gait beralun-alun.
***
Sewindu kulewati dengan kesenyuman getirku. Tapi tak ada sosok yang membuatku berdiri. Mendekap. Menopang tubuh. Lemah dan tak berdaya. Kelam diantara kelamnya gulita malam.
            Angin yang syahdu. Menanti kedatangan kedinginan. Tertatih-tatih dan teratung-atung. Udara pria terhirup napas kikuk bernyawa. Menarik dan melepaskan. Selalu terhirup napas menelah-penelah. Menanti penantian yang bernanti. Pria yang selama ini adalah napas angin jantan.

            “Hei para angin betina. Rasa-rasanya ada manusia lagi yang menjadi angin. Dia angin jantan. Adakah yang ingin mendekatinya?”

            Udaraku terhempas, yang awalnya rendah menjadi tinggi. Setelah kudengar penuturan dari teman sesamaku. rasanya awan kembali menari-nari di badan. Ragaku terbentuk menjadi angin sepenuhnya. Kau kembali.
            “Antar aku ke arahnya.”
            “Baiklah.”
            Rasanya tak sabar ingin melihatmu. Aku yakin itu kau. Tak sabar anginku membentuk lingkaran di perutmu. Mendengar tutur katamu, dan merasakan aroma anginmu.
            “Itu dia, angin jantan yang kumaksud.”
            Pelepisku rasanya luntur. Awan menjauhi getar  anginku. Hancur lebur. Tak sesuai dengan harapan. Kau bukan angin jantanku. Desauku menjamur. Aku kembali seperti dulu. Menjadi wanita penantian dan penghitung hujan.
             “Kenapa? Kau tak tertarik dengannya?”
            “Tidak sama sekali.”
            “Kenapa?”
            “Dia bukan angin jantanku.”
            “Aku lelah mendengar perkataanmu. Hampir setiap hari aku mendengar kata itu. Seharusnya kau tak usah menjadi angin. Kembalilah ke asalmu. Menjadi ranting.”
***
Andai pahit menjadi angan.
Bisikannya ditetapkan.
Ceritamu terbias haluan.
Deraianmu kau lupakan.
Elok rupamu kusimpan.
 Firasat berpandangan.
Gurat batin terusik angin.
***
            Lalu, aku kembali mengurai lagi kisahku.
            Malam itu ada segorombolan angin membentuk kerucut dengan pusaran yang sangat dalam. Di pusaran yang paling bawah rasanya belum sempurna. Ada angin yang belum bergabung di situ.
Aku melihat ada angin yang menetap berdiam durja tidak melakukan tugasnya. Angin itu merenung di pohon ayahku. Mungkin ia takut menghancurkan rumah-rumah yang ada di sekitarnya.
Mulai dari situlah aku memperhatikan angin itu. Jauh lebih dekat dari sebelumnya. Ingin sekali menggerakkan rantingku untuk menyentuhnya. Tapi aku malu. Angin itu terlihat tampan. Aku suka dengannya. Ya! Dia angin jantan.

“Hei,”
Angin itu celingukan mencari arah suaraku.
“Aku ranting yang ada di sampingmu.”
“Iya, ada apa?” jawabnya datar
“Kenapa kau tak bergabung dengan segerombolan angin itu?”
“Aku tak suka menghancurkan rumah. Apalagi menyakiti manusia.”
            “Kalau begitu, aku juga ingin menjadi angin. Bukan angin yang jahat, tapi angin yang baik. Sama sepertimu.”
            “Syukurlah, nantinya aku mempunyai teman. Aku tunggu kamu dipelantikan angin yah.”

Memoriku tak akan penuh oleh kata-katamu. Otakku hanya memutar dialog antara kita dulu. Hanya kata-katamu yang tersimpan. Hampir setiap hari aku mengeja kata per katamu.
            Tapi lidahmu terkujur keluar. Ludah yang telah keluar kau jilati dengan lahapnya. Semua hanya omongan belaka.
            Awan bergerak di kedalaman nestapa. Tak hentinya aku menyimpan air mata kerinduan. Ingin kuminumkan jika kau kembali, namun aku berpikir lain. Tak usahlah kau meminum kerinduanku. Biar kusimpan saja dan menjadikan sejarah antara kita berdua. Tapi ... kau tak kembali juga.
***
“Hei...,” katanya dengan nafas tak beraturan
“Ada apa? Kau membawa berita baru?”
“Iya. Voicenotemu  ternyata tak pernah sampai kepadanya.
“Benarkah itu?”
“Maaf, ternyata angin jantan yang kamu maksud sudah tak menjadi angin lagi.”
“Lalu dia kemana?”
“Entahlah. Tenang, masih banyak angin jantan lainnya. Tak usah memasang suhu yang suram.”
“Rasa-rasanya aku tak kuat lagi. Aku ingin bertemu ayah dan ibuku. Aku ingin menangis dan meminta maaf padanya.”
“Kau tak bisa ke sana, kau hanya bisa memandangnya dari langit dan mengirimkannya voicenote.”
***
“Dia telah menjadi manusia.”
Ah? Benarkah itu? Dari mana kau tahu?”
“Angin yang telah menjadi manusia masih tampak seperti angin. Di atas kepalanya ada awan yang menari-nari. Lihat ke bawah. Di bawah pohon itu. Angin jantanmu ada di sana bersama gadis lain.”

            Mataku terbelalat, rasanya mulut dan pikiranku tak menyatu. Suhu dan desauku tak seperti dulu lagi. Aku tak percaya, jika kau berada di naungan ayahku. Kau bersandar bersama gadis lain. Kau bukan angin jantanku lagi, tapi kau manusia yang tak tahu malu.
            Aku menyimpan air mata kerinduan dan kepedihan di wadahku sendiri. Jika kau kembali akan kuminumkan kau. Aku ingin kau merasakan betapa menderitanya aku dalam kerinduan yang tak kunjung kau balas.

Aku menjilat kembali ludahku, seperti kau yang menjilat ludahmu juga….
***

                                                                                      




TENTANG PENULIS

Nining Angreani. Nama pena, Niang Kuneng. Dilahirkan di kota Pinrang tanggal 29 Juli 1998. Bertempat tinggal di Jl. Ahmad Yani, Pinrang, Sulawesi Selatan. Penulis tengah menempuh pendidikan di SMAN 1 Pinrang. Aktif di organisasi KIR “Serangkai”. Salah satu karyanya telah bergabung di antologi cerpen. Pencinta biru ini dapat dihubungi di: 085217226829 , Alamat e-mail : Niningangreani@yahoo.co.id . Facebook: Nining Angreani, Twitter: @maudy_ninink





[1] Rekaman suara

Cerpen Kolaborasi - RINAI RINDU

Sebuah mini story berhasil disusun setelah beberapa sahabat saling melempar rangkaian prosa mini kemarin malam. Berikut hasil kolaborasinya .....


RINAI RINDU

Aku tersungkur ke dalam jurang penyesalan yang curam. Tapi di sana tidak bisa kutebus semua salahku. Engkau tak akan pernah kembali.
            Malam merambat perlahan. Denting piano itu menghanyutkanku pada buai cinta yang kau nyanyikan. Senandung hatiku menyambut riuh cintamu. Tapi kembali, kenyataan tidak akan seindah khayalan. Kau, bukan untuk kumiliki.
            “Bukan.Kau sudah menjadi miliknya. Kembalilah pada perempuan yang tengah mengandung benih cintamu di rahimnya,” meski kutahu kau datang demi meyakinkan bahwa cinta kita masih bersemi. Cinta seorang sahabat, cinta seorang kekasih yang tak sampai.
            Aku pun kembali menatap langit. Di sana tergambar jelas goresan wajahmu yang sendu. Kedip pilu matamu, dan senyum lugu terakhir yang meriak lengkung bibirmu, tak mampu kutepis meski selalu kau desak aku untuk melupakannya. Sedang apa di sana sahabat... apakah kau merasakan rinai rindu dan gerimis resah laraku?
-o0o-
Aku terus termangu menghiasi taman kerinduan. Ketika bintang mulai hanyut oleh cahaya rembulan, siluet itu mengayun menampar kedua pipiku. Oh..lamunan yang merenda kebisuan mulai gugup. Lalu aku berlari pada lorong ingatan itu..kau masih satu dengan masa lalu itu.
            “Aku hanya ingin kau tahu, bahwa cinta ini masih sama, Dara.” Kau hempaskan semua sisa sesak yang menggumpal di dada. Bertahun-tahun kau pendam hingga siksa membawamu kembali malam itu.
            Dan aku, masih belum bisa menjawab semua resahmu. Saat kedip kecewa tergambar di pelupuk matamu, aku tahu sesuatu yang buruk akan menimpamu. Aku tahu. Rasa takut itu kembali menjalar. Kenangan masa lalu kita.
            Masa lalu? Ya, masa lalu itu. Masa lalu yang pernah mempertemukan kita tanpa kita mau. Masa lalu yang kemudian membuat kita sama-sama menikmatinya. Kebersamaan, tawa hingga gores air mata yang pernah kita usap bersama-sama. Pun masa lalu yang akhirnya memaksa kita untuk tersekat satu sama lain. Berlari, berpisah dan menahanmu jauh dariku.
            “Dara, bisakah sekali saja kauucapkan kata ‘cinta’ untukku?”          
            Kata cinta, seperti denting jemarimu menari.
        Duhai sahabat, gerak langkah ini terhenti ketika syairmu menyapa. Bukan maksud hati agar kau melupakan kenangan kita, namun rindu pun telah melilit jantung. Walau jauh di mata bathinku selalu merasakan rinai rindu yang kau sebarkan hingga lara kau lontarkan. Di sini rindu ini membuncah. Menyebar pada luasnya samudera dan birunya langit.
          Dan aku harus mengingkari itu. Demi dia. Dia yang tengah menantimu dengan pucuk-pucuk cinta ranumnya yang siap merekahkan bunga bahagia.
         Dengan lunglai kau pergi. Semua rasa sudah kau lumat pasrah. Tetapi cinta tidak jua kau raih. Maafkan aku, sahabat. Jangan kau simpan duka, karena aku rela membagi sejuta cita untukmu. Ambillah dan buang duka itu! lupakan! Biarkan tanganku mengusap air dari hulu mata indah itu, tepis lara. Ceritakan kisah terpedihmu dan aku kan mengambinya, agar tiada lagi sakit lagi disana. Hingga tidurmu kan damai malam nanti.
-o0o-
            Lepas malam itu, kau tertidur. Bahkan akal sehatmu kau lenyapkan hanya dalam sekali kedip. Kau jelas meradang dalam arwah cinta yang menggantung. Menguap, menjadi kabut malam yang hilang ditelan kegelapan. Kenapa kau lakukan itu sahabatku? Kenapa kau rela mati demi meraih  cinta abadiku?
-o0o-
            Aku rela mengiris nadi jika itu sanggup membawamu kembali. Desis terakhir yang menembus ke relungku selalu merambat dalam mimpi-mimpi burukku setiap malam. Seharusnya tidak kubiarkan kau sendiri dalam lara, di tengah malam dengan derai siksa dan jeritan sakitmu. Penyesalan tiada guna kini. Seharusnya kuteguk darahmu yang membanjir agar jiwamu tetap hidup dalam ragaku. Maafkan setiap sesal yang tak mungkin bisa kurengkuh kembali.
            Tapi ternyata takdir berkata lain. Aku tak bisa menyangkal takdir yang sudah digariskan Tuhan untuk kita. Tuhan telah mempertemukan kita menjadi sahabat yang tak terlupakan, seperti itu juga Tuhan memisahkan kita. Hanya lewat gerimis malam ini aku menitipkan salam rinduku untukmu, aku menyesali semuanya. Masihkah bisa kutebus semua dosaku dimalam itu dengan penyesalanku kini.
-o0o-
Awan itu tersenyum.
            Dirimu tersenyum, seolah tengah berbisik, “Aku membawa cintamu melintas angkasa. Tapi kau, bukan untuk kusentuh. Dan aku tetap lupa, bahwa kau telah menganggapnya usai tanpa pernah tahu aku masih berharap kelanjutannya. Maka aku disini, termangu menatap bayangmu yang datang bersama rinai hujan. Merayu dedaunan untuk luruh bersama angin. Mencari jawaban atas pertanyaan yang tak pernah terucap. Membauimu di setiap helai sapuan udara.
            “Aku ingin kau di sini. Meminjam bahuku untuk memetakan tangismu pada garis-garis jiwaku yang lunglai. Lalu menatap teduh matamu. Aku ingin kau tahu, betapa hidup telah merampas bahagiaku, tanpa pernah peduli bahwa sesungguhnya betapa rapuhnya aku. Lalu mengabadikan hening kita yang terbunuh detak waktu. Setelahnya, naiklah ke atas kereta. Hitung jajaran bintang yang tertinggal. Lalu kau mengulum harapku, menghempaskannya sia-sia, sebab hujan diluar siap menampar kemungkinan-kemungkinan hidup dan mati dalam waktu bersamaan.
            “Tapi, dimana kau, Dara?
-o0o-
Hujan pun tak lagi iringi hari. Namun hati terlampau sepi. Mengiris. Kehadiran bukan kehadiran saat senyummu sirna terbawa angin, hingga sendu merambahi segala rupa di hadapanku. Tegarkan dirimu Sahabat, jika kau masih mampu merasakan kasih ini.
            Aku yakin, di sana kau rakit kata dengan indah. Sang senja menjadi lagu-lagumu. Kau sebut satu persatu termiliki senja. Sampai kapan kau merakit senja dengan malam sedangkan kau tahu perbedaan senja dan malam, begitu pula aku dan masa lalumu. Walau rindu itu selalu ada dan tak akan menghilang.
            Sahabat, sadarkah engkau? walau gerimis menghujani bumi ini tapi aku tak ingin kau seperti itu sahabat. Andaikan aku dapat menjadi mataharimu, akan kuterangi harimu tanpa hujan yang menjadi kelabu bagimu. Aku hanyalah manusia biasa yang hanya mampu menghiburmu apabila kesepian bagiku sahabat. Hanya satu kesempatan dalam hidupku dapat melihat senyummu bagai mimpi yang tak pernah hilang dari ingatan. Hanya senyummu yang meluluhkan hati dan tawamu yang menyatukan jiwa. Hanya tangismu yang membuatku teriris dan tak berdaya. Tersenyumlah bila kau mampu sampai aku tiada di sampingmu.
            Atau ketika aku kembali bersamamu. Saat rinai rindu ini menggelitik sepi.

Kolaborasi sahabat Pustaka Inspirasiku, 21 Maret 2012

-oo0oo-
            
Asalnya seperti ini :

 
Kembali menatap langit, di sana tergambar jelas goresan wajahmu yang sendu. Kedip pilu matamu, dan senyum lugu terakhir yang meriak lengkung bibirmu, tak mampu kutepis meski selalu kau desak aku untuk melupakannya. Sedang apa di sana sahabat... apakah kau merasakan rinai rindu dan gerimis resah laraku?

Lanjutin dong sobat, kalau hasilnya bagus, nanti saya post di Blog dan kamu bisa baca utuh hasil akhir yang tidak terduga.
· · · 21 Maret pukul 18:44

    • Asni Ahmad Sueb duhai sahabat
      gerak langkah ku terhenti ketika syairmu menyapa
      bukan maksud hatiku agar kau melupakanku
      namun rinduku pun telah melilit jantung
      walau jauh di mata bathinku selalu merasakan
      rinai rindu yang kau sebarkan hingga lara yang kau lontarkan
      di sini rinduku membuncah, menyebar pada luasnya samudra dan birunya langit
      21 Maret pukul 18:51 · · 3
    • Hermawan W Saputra Aku terus termangu menghiasi taman kerinduan, ketika bintang mulai hanyut oleh cahaya rembulan, siluet itu mengayun menampar kedua pipiku. Oh..lamunan yang merenda kebisuan mulai gugup. Lalu aku berlari pada lorong ingatan itu..kamu masih satu dengan masa lalu itu.
      21 Maret pukul 18:52 · · 3

    • Fanny Yanuarika Saputri ‎*nglanjutin punya Mas Hermawan W Saputra

      Masa lalu? Ya, masa lalu itu. Masa lalu yang pernah mempertemukan kita tanpa kita mau. Masa lalu yang kemudian membuat kita sama-sama menikmatinya. Kebersamaan, tawa hingga gores air mata yang pernah kita usap bersama-sama. Pun masa lalu yang akhirnya memaksa kita untuk tersekat satu sama lain. Berlari, berpisah dan menahanmu jauh dariku.
    • Asni Ahmad Sueb kau rakit kata dengan indah
      sang senja menjadi lagu-lagumu
      kau sebut satu persatu termiliki senja
      sampai kapan kau merakit senja dengan malam
      sedang kau tahu perbedaan senja dan malam
      begitu pula aku dan masa lalumu
      walau rindu itu selalu ada dan tak akan menghilang
    • Fanny Yanuarika Saputri lanjuuuuuuut ...

      *sholat dulu :)
    • Ali Sakit Wirasatriaji Tapi kamu, bukan untuk kusentuh.

      Tapi aku tetap lupa, bahwa kau telah menganggapnya usai tanpa pernah tahu aku masih berharap kelanjutan

      Maka aku disini, termangu menatap bayangmu yang datang bersama rinai hujan. Merayu dedaunan untuk luruh bersama angin. Mencari jawaban atas pertanyaan yang tak pernah terucap. Membauimu di setiap helai sapuan udara.

      Aku ingin kamu disini. Meminjam bahumu untuk memetakan tangisku pada garis-garis dadamu. Lalu menatap teduh matamu. Aku ingin kau tahu, betapa hidup telah merampas bahagiaku, tanpa pernah peduli bahwa sesungguhnya betapa rapuhnya aku. Lalu mengabadikan hening kita yang terbunuh detak waktu.

      Setelahnya, naiklah keatas kereta. Hitung jajaran bintang yang tertinggal. Lalu kau mengulum zakarku, bersenggama sia-sia, sebab hujan diluar siap menampar kemungkinan-kemungkinan.

      Tapi, dimana kamu?
      21 Maret pukul 19:19 melalui seluler ·
    • Fitria Handayani Meilana Sari ikutan juga ya, boleh kaan??
      ngelanjutin Ali Sakit Wirasatriaji :

      Aku terus menatap rinai hujan yang terus turun membasahi bumi, pikiranku mengingat jelas akan masa lalu itu, masa lalu kita dimana kita menjadi sahabat yang tak bisa dipisahkan.

      Disini, aku merasakan rindumu wahai sahabatku. Dan apakah kamu juga merasakan rinduku disana?
      21 Maret pukul 22:14 · · 1
    • Septiani Ananda Putri Hujan pun tak lagi iringi hari. Namun hati terlampau sepi. Mengiris. Kehadiran bukan kehadiran saat senyummu sirna terbawa angin, hingga sendu merambahi segala rupa di hadapanku. Tegarkan dirimu Sahabat, jika kau masih mampu merasakan kasih ini.

      Jangan kau simpan duka, karena aku rela membagi sejuta cita untukmu. Ambillah dan buang duka itu! lupakan!
      Biarkan tanganku mengusap air dari hulu mata indah itu, tepis lara. Ceritakan kisah terpedihmu dan aku kan mengambinya, agar tiada lagi sakit lagi disana. Hingga tidurmu kan damai malam nanti.
    • Rumah Buku Pustaka Ilmu Aku rela mengiris nadi jika itu sanggup membawamu kembali. Desis terakhir yang menembus ke relungku selalu merambat dalam mimpi-mimpi burukku setiap malam. Seharusnya tidak kubiarkan kau sendiri dalam lara, di tengah malam dengan derai siksa dan jeritan sakitmu. Penyesalan tiada guna kini. Seharusnya kuteguk darahmu yang membanjir agar jiwamu tetap hidup dalam ragaku. Maafkan setiap sesal yang tak mungkin bisa kurengkuh kembali.
    • Fitria Handayani Meilana Sari Lanjutan Rumah Buku Pustaka Ilmu :
      Tapi ternyata takdir berkata lain, aku tak bisa menyangkal takdir yang sudah digariskan Tuhan untuk kita. Tuhan telah mempertemukan kita menjadi sahabat yang tak terlupakan, seperti itu juga Tuhan memisahkan kita. Hanya lewat gerimis malam ini aku menitipkan salam rinduku untukmu, aku menyesali semuanya. Masihkah bisa kutebus semua dosaku dimalam itu dengan penyesalanku kini.
      21 Maret pukul 23:14 · · 1
    • Rumah Buku Pustaka Ilmu keren... besok akan digabung dan hasilnya akan berupa FF yang bisa dibaca di blog Pustaka Inspirasiku... thx ya semua...
    • Sekar Ayu Nur Fadhilah sahabat sadarkah engkau? walau gerimis menghujani bumi ini tapi aku tak ingin kau seperti itu sahabat,andai kan aku dapat menjadi matahari mu akan aku terangi hari mu tanpa hujan yang menjadi kelabu bagimu,aku hanyalah manusia biasa yang hanya mampu menghiburmu apabila kesepian bagi ku sahabat,hanya satu kesempatan dalam hidup ku dapat melihat senyummu bagai mimpi yang tak pernah hilang dari ingatan, hanya senyum mu yang meluluhkan hati dan tawamu yang menyatukan jiwa,hanya tangis mu yang membuat ku teriris dan tak berdaya, tersenyumlah bila kau mampu sampai aku tiada disampingmu
      21 Maret pukul 23:52 · · 2