Tampilkan postingan dengan label Oleh-oleh Training. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oleh-oleh Training. Tampilkan semua postingan

BERBAGI PENGALAMAN MENULIS NOVEL: NANING PRANOTO


Strategi Mencipta Judul

Apa yang paling anda sukai ketika mengunjungi toko buku? Dar 10 orang yang penulis interview, memberi jawaban: enam orang mengaku paling suka membaca judul-judul buku, tiga orang mengatakan paling suka melihat ilustrasi sampul buku, dan satu orang menjawab: nyengir.
Judul buku memang merupakan selling point untuk menarik pembaca, sebelum mereka membuka isi buku tersebut untuk memutuskan membeli atau tidak.  Dalam teori Creatice Writing, judul buku yang menarik disebut catchy. Akar kata catchy adalah to catch yang artinya menangkap.  Jargon catchy diartikan : Mudah ditangkap, mudah diingat karena menarik, dan sekaligus mengundang tanda tanya alias membuat pembaca penasaran : apa sih isi ceritanya?
Berdasarkan teori Creative Writing,mencipta judul agar catchy berpedoman pada rumus berikut ini:
  • Terdiri dari 1-5 kata
  • Pilih kata yang tepat, kuat dan ekspresif
  • Jika perlu gunakan kata-kata yang mengundang kontroversial, dan
  • Menggunakan bahasa literer (bahasa yang baik dan indah, menimbulkan imajinasi pembacanya)

Tentu saja untuk menciptakan judul yang catchy tidaklah mudah, jika itu original (tidak meniru yang sudah ada).  Sayangnya ,tidak sedikit pengarang yang suka mencipta judul dengan mengekor judul buku-buku laris.   Tindakan mengekor ini tidak salah jika mau disebut sebagai “Pengarang yang Tidak Kreatif”. Padahal, nilai unggul dan tidaknya seorang pengarang dinilai dari daya kreativitasnya dalam mencipta.
Untuk mempertajam maupun meningkatkan daya kreativitas dalam mencipta karya fiksi- termasuk dalam cipta judul, perlu membaca karya-karya orang lain.   Khususnya, karya-karya yang banyak diminati pembaca. (maaf, dalam hal ini terlepas dari bobot atau nilai isinya).
Berikut ini beberapa novel yang menjadi international best seller kurun tahun 2000-awal 2011 yang dikutip dari : www.buzzle.com/articles/great-novels-of-all-time.  Penyajian ini system acak, tidak disesuaikan dengan urutan peringkatnya:
  • White Fang-Jack London
  • A Message to Gracia-Elbert Hubbard
  • A Tale of Two Cities-Charles Dickens
  • Gone With the Wind-Margaret Mitchell
  • Perfume-Patrick Suskind
  • Emma-Jane Austen
  • The Cat in the Hat- Dr.Seuss
  • Wild Swans- Jung Chang
  • The Lord of the Ring-J.R.R Tolkien
  • The Name of the Rose- Umberto Eco

Judul lainnya silahkan akses ke situs di atas.
Perhatikan kesepuluh judul yang dijadikan contoh oleh penulis.   Silahkan dihitung, rata-rata hanya terdiri dari dua hingga tiga kata. Bahkan ada yang hanya menggunakan satu kata, yaitu Perfume- karya Patrick Suskind.
Novel-novel super laris karya pengarang Indonesia juga menggunakan judul tidak lebih dari tiga kata. Misalnya  novel Bumi Manusia, Saman, Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, dan Ketika Cinta Bertasbih.  Novel-novel karya Iwan Simatupang, sastrawan Indonesia yang karyanya sangat literer dan filosofis juga hanya menggunakan judul singkat, misalnya: Kering,Ziarah, dan Merahnya Merah.
Dari pengamatan penulis, relative banyak peserta creative writing workshop yang mencipta judul dengan menggunakan lebih dari lima kata.  Bahkan ada yang menggunakan 17 kata, berupa kalimat panjang: kekasihku Itu Menipuku, Menipu Ayah- Ibuku, Menipu Mantan-Mantan Kekasihnya, Sangat Memalukan Aku, dan Membuat Patah Hati.  Tentu saja judul itu bisa disederhanakan menjadi catchy, misalnya: Noktah Hitam Kekasihku atau Jelaga Penjara Jiwa.
Judul itu bukan kalimat.  Sebaliknya,kalimat bukan judul.  Jika judul ditulis lebih dari satu kata, maka punya persamaan dengan kalimat, yaitu : kumpulan kata.  Yang membedakan antara judul dan kalimat adalah sebagai berikut:
  • Kalimat: kumpulan kata yang mengandung satu arti , terdiri dari Subjek (S), Predikat (P), dan Obyek (O):S-P-O
  • Judul (jika menggunakan lebih dari satu kata): kumpulan kata yang mengandung multi makna/ multi arti, tidak terdiri dari S-P-O
  • Jika kalimat hanya terdiri dari satu kata, biasanya itu kata benda atau kata sifat maupun kata keadaan: mati,panas, kekasih, cinta.
  • Jika judul terdiri dari satu kata, lazimnya menggunakan nama orang (novel Saman karya Ayu utami dan Emma karya Jane Austen atau kata sifat (novel Kering karya Iwan Simatupang), da nada juga nama tempat (Wuthering Heights karya Emily Bronte)
  • Jika judul diciptakan mirip kalimat, maka kalimat itu harus mengundang tanda tanya-misalnya: My Name is Red, novel karya Orhan Pamuk (Pertanyaan :why is it red?) A Tale of Two Cities karya Charles Dickens( pertanyaan: what was happened in the two cities?), Charlie and the Chocolate Factory  karya Roald Dahl (pertanyaan: what did Charlie do to the chocolate factory?)

BERBAGI PENGALAMAN MENULIS NOVEL : NANING PRANOTO (4)


Air Mata dan Kebuntuan menulis
Pain gives you gain! –pepatah Inggris.

Penulis membenarkan pepatah tersebut.  Ya, rasa “nyeri” justru memberi berkah bagi pengarang dalam berkarya.   Perasaan yang luka dan perasaan yang nyeri menimbulkan ratapan.   Bagi pengarang, ratapan bisa terungkapkan melalui kata-kata yang indah dan ketika dirangkai menjadi kalimat terasa begitu menyentuh pembacanya.   Baik itu berupa puisi maupun prosa.  Bahkan kenyerian, kepiluan, dan ratapan yang dituangkan lirik lagu akan membuat pendengarnya meneteskan air mata…Semua itu tercipta karena adanya kepekaan

Peka, peka dan peka harus senantiasa membaluti perasaan seseorang yang berambisi menjadi pengarang unggul.  Dari kepekaan yang ada, seorang pengarang mampu melihat bintang mengerling, angina menari-nari, matahari tersenyum, ombak marah, rembulan kecewa, bunga-bunga tulip menitik kecewa, mawar merah cemburu pada anggrek yang tidak mudah layu, awan yang berang terhadap sayap-sayap pesawat terbang yang garang, merak jantan yang genit, dan sebagainya.   Kepekaan itu kadang membuat pengarang tersenyum, lain hari tercenung, terpesona, bergairah,…, dan tak jarang menitikkan air mata.

Kepekaan membuat seorang pengarang menjadi sosok yang imajinatif, terpicu berkarya dan terus berkarya.  Tapi, bukan berarti pengarang itu mampu terus menerus menulis.  Ada kalanya mengalami kebuntuan, tidak mampu menulis.   Atau, sedang menulis tiba-tiba berhenti karena terbentur kebuntuan yang sering kali membuat kecewa.  Kasus kebuntuan disebut Writer’s block.   Ini tidak hanya menimpa pengarang pemula, tapi bisa juga menimpa pengarang ulung. 
Penyebabnya bermacam-macam, antara lain: kelelahan karena terlalu lama duduk  mengarang, tubuh tidak fit,  atau sedang dilanda bad mood.  Bagi pemula yang masih sedikit pengalamannya dalam menulis, writer’s block dialaminya bisa jadi disebabkan antara lain karena miskin kosa kata, kekurangan materi yang ditulisnya, tidak matang  pada waktu plotting, meniru karya orang lain, dan tidak berambisi punya naskah.   Nah, jika anda mengalaminya, termasuk disebabkan oleh apa kira-kira?

Bila seseorang mengalami kebuntuan, seyogyanya berhenti menulis.   Gunakan waktu saat jeda menulis untuk istirahat sambil menghirup kopi atau the panas misalnya.  Atau, duduk di pinggir kolam sambil memandangi bunga teratai? Aneka buah, misalnya apel atau jeruk yang anda konsumsi akan membuat tubuh segar.

Berbincang-bincang santai dengan teman, membicarakan karya yang sedang ditulis bisa membangkitkan gairah kembali menulis.  Membaca buku yang ada kaitannya dengan naskah yang sedang ditulis dan mengalami kebuntuan, akan memberi  inspirasi dan kelancaran menulis terus berlanjut.   Baik juga mendengarkan musik sweet-soft, akan membelai jiwa, memulihkan kesegaran dan produktivitas.  Kemudian, menyiram tubuh dengan shower  berair hangat : semangat menulis yang semula redup akan kembali menyala dan membuahkan karya.

BERBAGI PENGALAMAN MENULIS NOVEL : NANING PRANOTO (3)


GOOD MOOD, BAD MOOD
Novel yang menarik untuk dibaca, selain materi ceritanya memikat, alur ceritanya mengalir (flowing), juga harus juicy.   Sebuah novel akan terasa juicy ketika dibaca harus ditulis dengan kata-kata selain juga ekspresif.   Pengarangnya ketika menulis memasukkan emosinya ke dalam karyanya.   Sehingga menyentuh perasaan pembacanya.   Maka, proses tune in antara pengarang dan pembaca pun terjalin.  Kondisi ini disebut “the we” : terjalin komunikasi antara pengarang dan pembaca melalui karyanya.

Karya juicy hanya bisa ditulis oleh pengarang dalam kondisi yang disebut in the good mood. Dalam kondisi yang sangat prima ini, pengarang bisa bekerja secara fokus, hingga membuatnya kreatif dan produktif.   Momentum ini disebut pula sebagai the golden time-jam emas untuk berkarya.   Sebaliknya, jika kondisi pengarang in the bad mood , maka karyanya akan jumble dan kering.
Mood adalah cuaca dan suasana hati.   Dalam kondisi in the good mood, proses berkarya si pengarang bak berada dalam lingkaran yang memutar begitu indah.   Sebaliknya, dalam kondisi in the bad mood, proses berkarya si pengarang bak berada dalam labirin yang memusingkan.  Tentu saja, karya yang dihasilkan jauh berbeda, seperti bumi dan langit kualitasnya.

Menjaga dan mengendalikan kondisi mood sangat diperlukan bagi pengarang yang berambisi membuahkan karya-karya yang menyentuh pembaca.

BERBAGI PENGALAMAN DALAM MENULIS NOVEL , OLEH NANING PRANOTO (2)

Seni Mengeksplorasi Imajinasi
Susan Barber –seorang pengajar creatice writing di Kanada mengatakan , “Imajinasi adalah pikiran yang melayang-layang, kemudian menembus ke dalam memori, menyentuh emosi, dan menimbulkan persepsi-membentuk sesuatu yang baru sebagai pemicu berkreativitas.”
Macmillan Dictionary mendefinisikan imanjinasi demikian : Tindakan atau kekuatan yang membentuk suatu citra atau gambar dari apa yang tidak pernah ada di tengah-tengah kita.   Atau, sesuatu yang hadir pada seseorang, buah dari pemikiran.  Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), imajinasi dijelaskan sebagai khayalan.
  1. A.    Imajinasi Modal Berprestasi
Henry Miller –sastrawan dan pelukis Amerika Serikat menegaskan bahwa imajinasi itu merupakan suara yang berani.  Maksudnya berani mengungkapkan segalanya, semuanya.   Carl Sagan , Ilmuwan Amerika Serikat yang dikenal sebagai pengarang novel fiksi, beranggapan imajinasi itu sesuatu yang sangat indah dan menakjubkan, “Imajinasi membawa kita ke dunia yang lain yang tidak pernah ada. Tapi, kita merasa bisa ke mana-mana dan berada di mana-mana.”
Menurut Simone Weil, filsuf dan penulis dari Perancis, jika seseorang mampu berimajinasi dan ingin menulis sebuah fiksi,  berarti dia telah menyelesaikan tiga perempat dari karyanya.  Anne Freud,putri tokoh psikoanalisis Sigmund Freud berpendapat bahwa imajinasi itu “ Biji” dari pemikiran kreatif.   Fungsinya, selain modal untuk berkarya- menciptakan sesuatu, juga merupakan semacam senjata untuk berprestasi.  Imajinasi juga senjata untuk pertahanan hidup yang keras penuh persaingan.  Maka dapat disimpulkan, orang-orang yang imajinatif lebih mampu berkreasi daripada orang yang biasa-biasa saja.  Imajinasi merupakan modal berprestasi.
  1. B.     Imajinasi : Suara Kecil yang Membahana
Imajinasi itu sulit didefinisikan, tapi percayalah setiap orang bisa melakukannya untuk menciptakan sastra fiksi-demikian antara lain pendapat Kenzaburo Oe,sastrawan Jepang yang pernah memenangi nobel sastra pada tahun 1994.  Lebih lanjut ia membagi pengalamannya, “Berimajinasi positif dan produktif jika itu untuk perdamaian dunia dan menyelaraskan kehidupan manusia yang kini tampak kurang teratur.  Wujudkan imajinasi itu melalui kalimat-kalimat puitis agar suaranya membahana ke seluruh dunia,” tegasnya.
Kenzaburo Oe dikenal sebagai pengarang yang banyak menulis tentang kisah-kisah mengenai “harga” martabat manusia.  Ia anti perang dan kampanye untuk hal yang tak terpuji itu, ia juga menulis tentang bejatnya manusia yang meninggalkan ajaran moral.  Maka, tak heranlah jika karya-karya novelnya yang ditulis dalam bahasa Jepang hampir seluruhnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan beberapa bahasa asing lainnya.  Penulis pernah membaca salah satu karyanya yang berjudul An Acho of Heaven.
Seseorang yang merasa sulit berimajinasi dapat melakukan beberapa hal.  Michals Duane-fotografer Amerika Serikat memberi saran, “percayalah bahwa suara-suara kecil di kepala anda mengatakan-sesuatu yang menarik, bahkan menakjubkan untuk anda wujudkan dalam bentuk karya.”
Penahkah anda mendengar “suara kecil” itu? Jika anda orang yang selalu sibuk dan sibuk, jarang merenung apalagi berkontemplasi , tentu sulit mendengar “suara kecil” itu.  Karena “suara kecil” itu hanya didengar oleh mereka yang peka.   Ciri-ciri orang peka berdasarkan teori creative writing adalah : Orang yang bisa melihat apa yang  mata tidak bisa melihat.  Juga, bisa mendengar apa yang telinga tidak bisa mendengar.  Selain itu, bisa merasakan apa yang hati tak bisa merasakan.
C.  Mengggugah Imajinasi
Pada dasarnya , semua orang memiliki daya imajinasi –demikian pendapat Ann Freud. Tapi, hanya sedikit orang yang mau menggunakannya secara optimal.  Bahkan relatif banyak orang yang membiarkan daya imajinasinya tidur pulas, karena kesibukannya memikirkan hal-hal yang bersifat material –bernilai uang atau kekayaan.  Hal ini terjadi karena adanya perubahan dari manusia budaya (cultural man) menjadi manusia ekonomi (homo economicus )-bahkan menjadi binatang ekonomi.
Perubahan tersebut perlahan-lahan tapi pasti mengikis nilai-nilai kemanusiaan, antara lain kepekaannya.  Sehingga membuat banyak orang kehilangan perasaan termasuk rasa malu.  Jika hal ini dibiarkan, akan menghancurkan peradaban manusia.  Hal ini diungkapkan Bronilaw Malonowski dalam bukunya A scientific Theory of Culture.  Harapannya, sastrawan mampu mencegah kehancuran tersebut melalui karya-karyanya yang dilandasi daya imajinasi yang kuat sebagai modal berkreativitas.
Untuk meningkatkan daya imajinasi diperlukan beberapa usaha untuk menggugah imajinasi , antara lain dengan cara sebagai berikut :
  • Banyak membaca buku yang bermisikan filsafat, kebudayaan, dan bersifat humanis.
  • Melihat berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita, bahkan peristiwa berlingkup dunia dengan nurani dan mata hati-bukan hanya berdasarkan hukum ekonomi: untung-rugi
  • Banyak melakukan traveling-menikmati keindahan dan keajaiban alam yang diciptakan Sang Maha Pencipta
  • Mendekatkan diri kepada  Yang Maha Kuasa melalui ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.
  • Percaya bahwa imajinasi lebih penting dari pada ilmu pengetahuan- seperti yang dikatakan si genius Albert Einstein.  Mengapa? Karena ilmu pengetahuan itu terbatas sedangkan imajinasi melingkupi dunia.
  • Bagi anda yang berminat menulis novel bernilai, perlu membaca karya-karya novel pengarang yang telah teruji  kualitasnya (pengarang nasional dan kelas internasional), karya mereka adalah guru bagi kita.

  1. D.    Mulai dengan Kata : Nafas Sekuntum Ruh dalam Merah
Karya adalah buah dari proses berimajinasi, membuahkan ide.  Selanjutnya, ide ditulis menjadi sebuah cerita melalui narasi yang memikat.  Pilihlah kata yang tepat dan ekspresif sesuai dengan tema cerita yang disajikan.  Tulis pula kalimat-kalimat kreatif, yaitu kalimat yang tidak hanya indah saja, tapi menimbulkan daya imajinasi pada pembacanya.
Dalam proses menulis Sekuntum Ruh dalam Merah, novel yang bernafaskan islami, pengarang membaca buku-buku islami  untuk memperkaya kosa kata yang mendukung nafas tersebut.  Pengarang membaca sekitar 15 judul buku untuk menopang penulisan novel tersebut.
Buku-buku yang penulis baca antara lain: Ensiklopedia Hadist Masterpiece Nabi Muhammad SAW, Siti Aisyah The Greatest Woman in Islam, Tafsir Asmaaul Husna, 14 Orang Suci, Ta Tahzan, Tafsir Feminis, dan Sejarah Masuknya islam di Australian.  Dari buku-buku tersebut penulis memperoleh pengayaan kosa kata.
Pengayaan kosa kata yang diperoleh dari hasil membaca sebaiknya ditulis- khususnya kata-kata yang dianggap penting untuk mewujudkan ide , buah dari berimajinasi.

BERBAGI PENGALAMAN DALAM MENULIS NOVEL :NANING PRANOTO


Oleh-oleh dari saya saat mengikuti Kegiatan “Diskusi Sastra Perempuan dalam Fiksi dan Workshop Menulis Novel” dengan Tutor Bu Nuning Pranoto
Karena banyak saya posting per materi aja ya?

Sekilas: Pengertian Novel

Definisi novel? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan, novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangakaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya, menonjolkan perilaku, watak,dan sifat setiap pelakunya.
Menurut teori Creative Writing, novel merupakan karya fiksi yang panjang, disajikan dengan system narasi dan dialog, berisi permasalahan (konflik yang disajikan) lebih kompleks daripada cerita pendek (cerpen).  Ada dua jenis novel, yaitu novel pendek disebut novelet dan novel panjang lazim disebut novel.
Novel pendek atau novelet terdiri dari 25.000-35.000 kata.   Sedangkan novel panjang terdiri dari 50.000 hingga ratusan ribu kata.  Novel yang ideal cukup terdiri dari 35.000-90.000 kata.  Novel Sekuntum Roh dalam Merah yang menyertai teks ini terdiri dari 60.000 kata, tidak termasuk daftar isi tentunya.
Materi novel dapat dikembangkan dari cerpen yang terdiri dari 3.000 -5.000 kata.  Sedangkan cerpen mini yang disebut Flash hanya terdiri dari 100-750 kata.  Meskipun sangat pendek, cerita yang disajikan tidak selalu sederhana.  Bahkan sastrawan agung Rusia-Anton Chekhov mampu menulis cerpen hanya terdiri dari puluhan kata, tapi sangat filosofis.   Untuk menikmati karya cerpen Anton Chekhov, bisa dicari di google.com lalu telusuri List of Short Stories by Anton Chekhov.  Yang paling komplit ada di Wikipedia.
Novel berasal dari kata novella- bahasa Italia yang berarti sebuah kisah.  Ada sekitar 13 jenis novel. Namun yang dibahas dalam buku ini adalah kisah yang diangkat dari realita kehidupan atau disebut novel realitas.   Novel jenis ini termasuk dalam genre novel modern (Fact-Fiction), ilustrasi penciptaannya sebagai berikut :





                                              Pengendapan dan mengolah ide

                                                                                                       Proses kreatif menulis



 
                                                         Ide realitas sekitar kita

Agar pengolahan ide dapat sematang mungkin dan menghasilkan plot yang mengalir, perlu mengajukan pertanyaan dengan rumus 5W (Who,What,When,Where,Why) +1H( How) .  berikut ini paparannya.

  • Who? Character –Siapa saja pelakunya
  • What? Story and conflict – Cerita apa yang disajikan dan bagaimana konfliknya?
  • When? Time (Setting) –Kapan terjadinya cerita tersebut?
  • Where? Place /location ( Setting) – Di mana saja berlangsung cerita tersebut?
  • Why? Character’s motivation- Mengapa? Apa motivasi para pelakunya berbuat demikian?
  • How? Resolve its conflict – Bagaimana mengatasi konflik yang ada?
  • Ending cerita

Jawablah pertanyaan tersebut dengan yakin.  Kemudian dilanjutkan dengan Plotting.  Duduk tenang penuh konsentrasi dan siapkan kertas serta pena untuk melakukan Plotting.