Diskusi Bersama Cerpenis Terbaik KOMPAS

GUNTUR ALAM


03 Maret  2013  

    
Diskusinya di wall sini ya sahabat semua...

Kita akan coba diskusi dengan nara sumber penulis yang pasti sudah sahabat kenal melalui karya2nya yang bertebaran di media. Mas Guntur Alam

Belain lahir di Tanah Abang, Muara Enim, Sumatera-Selatan, 20 November 1986. Menyelesaikan Pendidikan di Teknik Sipil Universitas Islam “45” Bekasi. Belajar menulis di Bengkel Cerpen Nida, Majalah Annida, Utan Kayu, Jakarta.

Berkenalan dengan tulis-menulis lewat cerpen. Cerpen-cerpennya dimuat di koran Kompas, Tempo, Jawa Pos, Republika, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Lampung Post, Surabaya Post, Radar Surabaya, Jurnal Bogor, Tribun Jabar, Batam Pos, Sijori Pos, Berita Pagi, Annida, Annida-Online, Femina, Paras, Sabili, Ummi, Al-Mujtama, Story, Kartini, Aulia, Cempaka, Nova, NooR, Kartika, JOe Fiksi, dan lain-lain.

Novel terbarunya: JURAI - Kisah Anak-Anak Emak di Setapak Impian, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Februari 2013.

Yok kita mulai aja diskusinya ya... semoga sinyal pada ok...
Top of Form
Guntur Alam Nah, saya ikuti irama diskusi di sini. Temanya tentang menulis CERPEN di Media Massa. Mohon jangan melenceng terlalu jauh ya. Terima kasih.
Kamiluddin Azis Iya Mas tidak apa-apa... nanti saya selang dengan mention sahabat yg lain nggak apa2 ya Mas. Dan sambil nunggu, kalau boleh saya bertanya : Apakah menjadi cerpenis dan menulis di berbagai media itu sudah menjadi pilihan Mas atau merupakan batu loncatan atau semacam mengumpulkan kekuatan untuk membuat sebuah karya yang lebih besar?
Marlyn SaimaruChrist BlueAngel Kalau boleh berbagi, bagaimana sih pengalaman pertama Kak Guntur saat mengirimkan cerpen ke media? Kan yang namanya pemula, nama belum terkenal, tentu sulit..
Lely Erwinda Malam mas Guntur Alam. Wah, keren nih. karyanya sudah bertabur di mana-mana. Sejak kapan naskahnya mulai dimuat oleh media massa?
Muhammad Yusuf Abdillah Salam kenal mas Guntur. saya sering baca status2 FB mas.
Mas penulis novel ya?. Sejak kapan suka menulis mas?. dan awalnya genre apa nulisnya?.
Guntur Alam Ok, tidak masalah untuk mention teman-teman yang lain.
Awal menulis cerpen, saya nggak pernah mikir ini sebagai batu loncatan atau bukan. Saya hanya menulis saja. Karena saya senang membaca dan saya pikir akan asyik jika saya menulis cerita versi saya sendiri.
Kamiluddin Azis Hardy Zhu, Lely Erwinda, Aldy Istanzia Wiguna, Anung D'Lizta, Aiman Bagea di wall sini ya diskusinya, silakan bertanya sesuai tema agar kita bis abelajar dari Mas Guntur Alam
Guntur Alam Iya, memang sulit pas pertama kali. Saya ditolak terus. Bahkan saya nulis cerpen dari tahun 2002 awal, saat SMK, baru bisa nembus Annida dan dimuat tahun 2004 akhir.
Guntur Alam Sejak 2003 tulisan nonfiksi saya dimuat Annida, awal berkenalan dg tulismenulis dg media ini. Untuk cerpen dimuat akhir 2004.
Guntur Alam Awalnya suka baca sejak SD. Tertarik nulis karena berkenalan dengan majalah Annida semasa di SMK. Awalnya nulis segala genre, artikel, cerpen, dll.
Gagak Sandoro Sampai pada akhirnya tembus jadi penulis pilihan kompas itu mantab.
Guntur Alam Ya, saya mulai berani kirim ke Kompas sekitar akhir 2009, tak menyangka hanya butuh waktu 6 bulan, saya bisa dimuat Kompas. Dan tahun 2011 salah satu dari 2 cerpen saya yang dimuat tahun itu, terpilih jadi cerpen pilihan Kompas 2011.
Ririen Narsisabiz Pashaholic berapa kli ditolak penerbit mayor?
Lely Erwinda Sempet putus asa nggak, saat naskahnya ditolak terus? Atau mas Guntur Alam justru makin termotivasi untuk bangkit?
Kamiluddin Azis Kalau saya baca cerpen2 Mas ini banyak yg bernuansa lokalitas, tetapi baru2 ini saya juga baca cerpen mas yg meremaja. Sebenarnya ada pilihan genre atau tema tertentu yang coba Mas sampaikan dalam cerpen2 mas?
Ririen Narsisabiz Pashaholic Guntur Alam itu masih semarga ma putra alam ya?
Guntur Alam Sebenarnya tema kita menulis cerpen di media massa ya, Ririen. Tapi baiklah, tak apa-apa. Sering sekali ditolak. Puluhan kali kayaknya. Tapi saya nggak nyerah. Ajaibnya ketika pertama kali nawari naskah novel ke GPU, langsung diterima. Mungkin karena proses saya sudah lebih baik dari yang dulu-dulu --saat ditolak itu.
Ririen Narsisabiz Pashaholic *tepok jidat internet lola. jadi pas kirim ke gpu langsung deal? itu ada doa khusus gak?
Marlyn SaimaruChrist BlueAngel Kakak punya tips khusus gak untuk yang akan mengirim cerpen ke media? Kan, yang kirim cerpen ke media itu bukan satu, dua, bagaimana caranya menarik perhatian media dan meyakinkannya agar cerpen kita layak untuk dimuat?
Guntur Alam Sempet putus asa, Lely Erwinda. Saat tahun 2005, ketika saya sudah "kursus" menulis di Annida, tulisan saya dimuat. Terus tidak dimuat lagi sampai bebrulan-bulan. Akhirnya saya berpikir, saya nggak bakat nulis. Dan berhenti nulis selama 2006. Saat 2007, pas kuliah, saya main ke kost teman dan nemu majalah Sabili, baca cerpen di sana. Saya pikir, cerpen-cerpen saya cocok dg media itu. Saya kirim dan langsung dimuat. Itu memberi pelajaran: Jangan fokus dengan satu media, banyak media lainnya. Gak cocok di media A, belum tentu di media B. Ini masalah selera. Sejak itu saya bangkit dan tulisan saya mulai merambah Femina, dll.
Guntur Alam Alam bukan marga, Ririen. Doa khusus? Gak ada. Yang penting terus menerus belajar dan perbaiki kualitas tulisan dg rajin berlatih dan banyakin baca buku bermutu.
Guntur Alam Tips khususnya: Ada di BADAN email kita, Marlyn SaimaruChrist BlueAngel. Di sana kunci apa cerpen kita akan dibaca atau tidak. Jika gak dibaca, bagaimana mau dimuat? Nah, di badan email, kamu harus buat pengantar yang bisa "menjual" cerpenmu.
Ririen Narsisabiz Pashaholic selain usaha pasti doa juga dong ya. kan tuhan yang menentukan. tembus mayor untuk keberuntungan
Ririen Narsisabiz Pashaholic mas Guntur Alam contohin dong pengantar yang menjual cerpen
Guntur Alam Itu kreativitas masing-masing penulis. Kalau "mencontoh" dan sama, redakturnya agak males. Ini dunia kreatif, kita selalu dtuntut untuk berinovasi. Inti badan emailmu: Menjelaskan apa isi cerpenmu, mengapa layak muat, dan kenapa dia berbeda dengan cerpen orang lain. Itu saja.
Lely Erwinda penulis memang harus tahan banting, ya. Entah gimana kalo saya yg ngalamin. saya sendiri malah belum pernah coba kirim naskah ke media. oh, ya mas Guntur Alam. Biasanya 1 naskah cerpen membutuhkan waktu berapa lama untuk menyelesaikannya?
Kamiluddin Azis Mas Guntur Alam ada pertanyaan saya di atas yg belum terjawab, soal genre. Tapi saya sambung lagi deh, setelah banyak cerpen dimuat di media yang berlainan, apakah akan terus menulis untuk banyak media seperti itu atau hanya memilih media tertentu saja Mas?
Guntur Alam Terkadang waktu saya menulis. Biasanya 1 cerpen saya hanya butuh 2 jam. Tapi untuk masa pengendapan, butuh waktu lama. Ada yang berbulan-bulan. Agar bisa direvisi dan diketahui bagian mana yang jelek. Biasanya setelah cerpen diendapkan agak lama, saat dibaca lagi, kita tahu kesalahan-kesalahan yang kita lakukan.
Mazaya Eaw Azza mau nanya, mas... genre memang bisa bebas. tapi gaya naskah yang gimana sih yang disukai media. aku baca cerpen2 di koran itu hampir enggak pernah nemu yang puitis-melancolis kayak yang kebanyakan digandrungi penulis remaja sekarang...
Marlyn SaimaruChrist BlueAngel Wah, begitu yah Kak. Jadi intinya buat media tertarik saat membaca badan email itu.
Kalau evaluasi cepen itu kira-kira berapa lama yah maksimalnya, Kak? Kan biasanya suka ada media yang tidak memberitahu kalau cerpen kita tidak dimuat.
Guntur Alam Oh, maaf, Kang Kamiluddin Azis. Numpuk-numpuk komentnya kelewat. Inilah yang saya sebut penulis harus berinovasi dan kreatif. Saya memang menulis lokal, gothik, remaja, dsb. Sengaja, agar pembaca saya nggak bosan. Dan ini pernah disarankan oleh seorang redaktur media massa besar. Saat dia terkejut ketika saya bermanuver dari lokal ke gothik. Cerpen itu hanya butuh 2 hari antri di korannya, langsung muat. Artinya, penulis dituntut untuk memberi kebaruan.
Kamiluddin Azis iya Mas makasih, saya dapat pointnya... lanjut siapa tanya lagi, pertanyaannya keren2 nih Mas... sangat inspiratif dan jawabnnya... so pasti yang ditunggu2, sangat berilmu
Guntur Alam Saya akan terus menulis untuk banyak media. Karena "karakter" media-media itu berbeda, biar nggak boring juga dalam berkarya. Tapi saya lebih selektif memilih, jika ada media yang gak berikan hak penulis, saya langsung black-list.
Ririen Narsisabiz Pashaholic menulis gothik itu gimana sih? baru dengar
Guntur Alam Itu namanya karakter media, Mazaya. Tiap media berbeda. Media A suka dengan tema sosialis. Media B suka dengan tema urban, dsb. Makanya, saya bilang, jika ditolak media A, belum tentu di media B. Inti menulis di media koran adalah tema, gaya bercerita, bahasa, dan pesan. Bila hanya puitis tapi pepesan kosong, untuk apa?
Kamiluddin Azis Soal hak penulis, bukannya mau materialistis atau bagaimana ya Mas, tetapi seperti yg Mas singgung tadi soal 'hak' penulis, beberapa saya dengar honor menulis cerpen di media tertentu sangat kecil. Mungkin pertimbangannya karena penulisnya belum punya nama. Apakah memang begitu, nama penulis yg dilihat dan bukan kualitas karyanya?
Guntur Alam Itu tergantung media, untuk masa tunggu. Ada yang 1-2 minggu, ada yang 2 bulan, bahkan ada yang 5 bulan. Itu diluar kendali penulis. Makanya harus rajin ikuti kabarnya. Sekarang setiap Minggu ada kabar siapa yang dimuat di Status Facebook Bamby Cahyadi.
Ririen Narsisabiz Pashaholic mas Guntur Alam ada niat gak merubah genre tulisan misalnya dari romance mendadak pengen nulis horor, dll. atau tetapo ingin setia pada 1 genre?
Guntur Alam Gothik itu sama dengan horor, Ririen.
Ririen Narsisabiz Pashaholic owalah gothik itu horor toh baru dengar sih.
Lely Erwinda Diendapkan? Benar. Kalau membaca ulang karya yang sudah lama dibuat, pasti kelihatan letak kecacatannya. Apa yang memotivasi mas Guntur Alam untuk mengirim karya ke media?
Guntur Alam Ada beberapa media yang memang membayar berdasarkan "nama" besar pengarang. Tapi nggak banyak kok, Kang Kamiluddin Azis. Untuk cerpen Kompas memberi honor 1.1 juta. Itu saat 2012, 2013 saya belum dimuat lagi, jadi nggak tahu. Kompas biasnaya tiap tahun naik. Nah, biasanya yang kecil honornya itu media lokal.
Guntur Alam Motivasinya karena saya ingin karya saya dibaca orang, mendapat saran-kritik agar bisa berkarya lebih baik lagi. Dan dulu, semasa kuliah, agar saya bisa dapat uang saku tambahan. Hahahahaha..
Secara honor Kompas, Jawa Pos, Tempo bisa 700-1.1juta. Kan lumayan buat mahasiswa.
Guntur Alam Mengenai hak tadi. Jika honornya kecil, kemungkinan karena medianya emang kecil, Kang Kamiluddin Azis. Untuk media nasional, rata-rata sudah lumayanlah. Walau ada beberapa yang sedikit nakal dengan honor penulis yang macet.
Mazaya Eaw Azza oh, gitu ya mas... nah itu tuh yang berat, buat yang berisi... hehehe. aku pekanya sama ide2 yang mello2 aja, parahnya enggak bobot juga. pengen yang lebih tajam kayak di koran2, tapi susah. minta saran donk, mas... ^^v
Kamiluddin Azis Wow, 1,1 lumayan besar, belum lagi menjadi Cerpen pilihan 2011 ya Mas... yg Limas itu kan ya Mas (judulnya lupa)?
Kamiluddin Azis Kalau Kompas sendiri cenderung menerima cerpen seperti apa ya Mas, apakah harus yg berbahasa sastra, atau ada tema tertentu yg menjadi pilihan khusus?
Guntur Alam Saran saya, banyakin baca cerpen koran, bila memang ingin menulis di koran. Kemudian kamu cari tahu: KENAPA cerpen ini dimuat? Apa KELEBIHANNYA? Apa KEKURANGANNYA? Saya membaca karya seperti itu. Jangan asal baca. Oh, bagus. MAnggut-manggut aja. Caritahu alasa kenapa dia layak muat. Kalau kamu baca seperti itu, kamu akan banyak dapat ilmu seperti teknik penulisnya bercerita, membuka cerpennya, dsb.
Guntur Alam Tema media massa itu susah diraba, Kang Kamiluddin Azis. Namun biasanya Kompas suka dengan tema sosial.
Guntur Alam Ya, cerpen saya yang masuk cerpen pilihan Kompas 2011: Mar Beranak di Limas Isa.
Kamiluddin Azis iya Mas. Cara belajar yang patut kita tiru, sahabat semua...
Lely Erwinda Kalau dihitung-hitung, sudah berapa karya yang dimuat? Dan genre mana yang mendapat poling tertinggi?
Kamiluddin Azis Polling tertinggi di sini mungkin maksudnya senada dengan pertanyaan saya,genre apa yg paling Mas suka, dan yg paling sering dimuat (terlepas dr jenis koran/majalahnya sendiri)
Sherina Salsabila salam kenal ka Guntur Alam, aku menyimak saja dan senang membaca semua interaksi disini
Guntur Alam Wah, saya lupa sudah berapa banyak. Seratus lebih kali ya. Tersebar di 20-21 media massa (koran, majalah, tabloid). Untuk genrenya kebanyakan suka saya bermain di tema lokalitas dan gothik. Untuk tema gothik silakan baca "Tamu Ketiga Lord Byron", "Kastil Walpole". Untuk lokal ada banyak, "Mar Beranak di Limas Isa". "Perihal Sebatang Kayu di Belakang Limas Kami yang Ada dalam Hikayat Emak." dsb...
Guntur Alam Saya lebih suka bermain di lokalitas dan gothik, Kang Kamiluddin Azis. Walau sebenarnya tema ngepop saya juga lumayan menyukainya. Lebih santai menulis pop.
Guntur Alam Salam kenal, Sherina.
Kamiluddin Azis Iya karena suka dg lokalitas itu ya ' Mar Beranak di Limas Isa' jadi yg terbaik dari yg terbaik... salut saya Mas... lanjut tanya lagi ya sahabat...
Kamiluddin Azis Sambil nunggu yg lain nanya Mas, agak tekhnis mungkin nih ...Untuk Kompas sendiri aturan pengiriman naskahnya seperti apa, berapa ribu kata/cws atau bagaimana, kalau via surel ke alamat mana, kalau via pos ke mana, supaya mala mini juga sahabat di sini catat.
Guntur Alam Saya masih setia menunggu. Dan kita belum bahas tentang cerpen. Padahal mau bisa dimuat kita harus bicara ke sana. Tapi saya akan menunggu...
Sherina Salsabila Ka, aku mau tanya, bagaimana sebuah eksekusi cerita dalam sebuah cerpen karena kan yg namanya cerpen itu media singkat? maaf kalau pertanyaan tidak tepat.. heheh
Guntur Alam Paling banyak 10 ribu karakter dengan 2 spasi untuk Kompas. Jangan lebih sekarang. Pengiriman biasanya via email ke opini@kompas.co.id atau opini@kompas.com. Boleh pakai alamat keduanya. Subjek CERPEN. Sebab email ini dpakai untuk pengiriman seluruh naskah; artikel, surat pembaca, dsb. Dari subjek, admin bisa meneruskan email ke penjaga gawangnya.
Lely Erwinda Subhanallah. Banyak sekali, ya. Terbayar sudah dong ya keputusasaan terhadap naskah-naskah yang pernah ditolak. Boleh tau, dari seratus karya yang pernah dimuat, adakah yang berisikan pengalaman pribadi? Atau murni rekaan/ imajinasi?
Guntur Alam Diperjelas, Sherina Salsabila. Ekseskusi dalam hal apanya...
Sherina Salsabila penyelesaian konflik kak
Kamiluddin Azis Saya deh yg tanya, sekalian minta tips mungkin ya, nyambung pertanyaan si cantik Sherina Salsabila... Soal plot dan kekuatan tokoh dan konflik, gimana cara menonjolkannya, soalnya kita terbatas pada jumlah karakter/kata sedangkan di kepala kita bertebaran kata yg ingin dituangkan. Juga cara pemaparan narasi yg tepat Mas...
Guntur Alam Setiap cerita, secara sadar atau pun tidak, kita memasukan karakter kita sendiri dalam tulisan, Lely Erwinda. Tapi jika mau baca tulisan saya yang hampir 50-70% diangkat dari pengalaman pribadi. Silakan beli dan baca novel saya, JURAI, yang diterbitkan GPU akhir Februari.
Guntur Alam Dalam cerpen, GAK semua konflik HARUS kita selesaikan, Sherina Salsabila. Itulah kenapa ada istilah open ending dan close ending. Di open ending, konflik nggak selesai. Pembaca yang menentukan nasib tokoh. Seperti cerpen saya "Mar Beranak di Limas Isa", konfliknya tidak selesai. Apa anak yang dilahirkan Bi Mar laki-laki atau perempuan. Saya menyudahi cerita di sana saja. Silakan pembaca yang meneruskan ceritanya dengan versi mereka. Dan ini kebanyakan saya pakai dalam cerpen saya.
Nimas Kinanthi Salaam kenal, Mas Guntur Alam kayaknya hampir setiap minggu karyanya nongol di media. Salut coklat! Mupeng juga btw, novel Jurai selain di gramed, di toga ada nggak? Di kota saya tidak ada gramed. Sejak diumumkan di status Mas Bambi ttg novel Jurai, sy sdh ancang2 harus beli ...
Sherina Salsabila okee, jadi dalam sebuah cerpen mungkin penuturan dan alur yang harus menonjol ya kak? heheh maaf kalau pertanyaannya belibeet harap dimaklumi masih kleas 7 hehe
Kamiluddin Azis Nah itu salah satu yg pending di pertanyaan saya, soal open dan close ending... sepertinya (banyakan yg saya baca) Kompas sukanya yg open ending. Saya pernah buat seperti itu, dan katanya banyak pembaca yg gak suka open ending, benar begitu gak sih Mas?
Guntur Alam Cerpen medianya pendek, Kang. Jadi bila belum mampu menonjolkan karakter para tokohnya. Coba tonjolkan konfliknya saja. Untuk pemaparan narasi dan plot yang tepat. Ini harus rajin praktik. Selalu diingat. Bila menulis cerpen, pertanyakan: Apakah kalimat ini bisamenguatkan cerita atau bila dibuang juga gak ngaruh? Bila dibuang gak ngaruh. itu artinya gak perlu. Buatlah kerangka cerita dulu sebelum menulis. Cerita ini akan dibuka seperti apa, konfliknya bagaimana, klimaksnya sepertinya apa, anti klimaks alias endingnya seperti apa. Jadi nggak melebar kemana-mana dengan ide yang banyak di kepala.
Guntur Alam Di Togamas apakah bukubuku terbitan GPU masuk, Mbak Nimas Kinanthi? Jika masuk, berarti ada. Tunggu saja...
Nimas Kinanthi Maaf nanya lgi nih Mas (mumpung ada orangnya hehehe), klo Kompas biasanya tema apa yg sering dimuat? Trus Jawa Pos, batasan cws nya apakah sama dgn Kompas?
Guntur Alam Begini, Sherina Salsabila. Elemen dalam cerita itu ada beberapa. Alur. Plot. Karakter. Konflik. Dsb. Semua itu sebisa mungkin harus terpenuhi. alur cerita alias jalan cerita harus sesuai logika, makanya ada teknik flas back, dsb. Sementara penuturan alias narasi, itu sudah termasuk cara bercerita. Cara bercerita juga penting karena kalau ngebosenin, gak bakal dibaca. Konflik? Penting juga, kalau cerpennya datar aja, juga bosen, kan?
Kamiluddin Azis Oh, jadi kekuatannya di Konflik ya, I see... soal dialog Mas... berapa persen proporsi dialog dalam cerpen yg baik?
Guntur Alam Masalah ending, Kang Kamiluddin Azis. Semua tergantung kita. Saat menulis cerpen, kita memang harus memikirkan pembaca. Tapi bukan berarti kreativitas kita terjajah. Ketahuilah, seorang penulis nggak akan bisa memuaskan seluruh pembaca cerpennya. Jadi menulis saja sesuai hatimu. Jangan pikirkan apresiasi yang akan datang.
Sherina Salsabila seep kakak Guntur Alam, terimakasih atas jawabannya yang sangat menjawab
Kamiluddin Azis Hudha Abdul Rohman dan NabiLah NabiLah maaf baru ke-accept.. silakan gabung di diskusi ini ya, menyimak dari awal dan bertanya dengan pertanyaan yg televan dg tema ya ...
Guntur Alam Standar koran itu jumlah karakternya maksimal 10 ribu dengan 2 spasi. Tema Kompas kebanyakan sosial. Kalau Jawa Pos kayaknya umum, walau saya lihat akhir-akhir ini lebih suka ke lokal, Nimas Kinanthi
Mazaya Eaw Azza akhirnya bisa gabung lagi, habis error2 mulu. pe-er ku jadi banyak nih, terutama soal kupas habis cerpen2 koran. *emang ini yang jarang banget kulakukan. hehehe
Guntur Alam Nggak ada porsi standar untuk dialog dan narasi, Kang Kamiluddin Azis. Kebanyakan cerpen saya malah miskin dialog, karena saya lebih mampu bermain dalam narasi. Nah, jika Kang Azis merasa lebih mantap di dialog, nggak apa-apa. Ini ciri khas masing-masing.
Kamiluddin Azis Kalau Nimas Kinanthi saya yakin sangat potensi masuk Kompas, beliau kayak tungku yg bisa panasin semangat saya... Mas Guntur Alam sering saya dengar Mas ini alumnus Nida, maksudnya gimana nih Mas, Mas pernah belajar khusus di sana atau bagaimana?
Guntur Alam Saya memang mengenal tulis-menulis dari majalah Annida. Bahkan saya ikut pelatihan menulis cerpen di sana taun 2005. 4x pertemuan. Jadi bisa dibilang saya almuni di sana. Dari yang nggak tahu pake titik, koma, tanda seru, tanda kutip, buat paragraf pertama yang menggoda, judul yang memikat, dsb. Saya jadi tahu saat belajar di sana. Selanjutnya memang saya belajar otodidak dari mengamati karya-karya orang yang dimuat.
Nimas Kinanthi @Kang Aming: awas kebakaran...
@Mas Guntur : cerpen Mas Guntur sering sekali masuk media. Klo boleh tahu, rata2 dalam seminggu berapa cerpen yang Mas Guntur kirim? Lalu saat kehilangan ide, bagaimana cara Mas Guntur menggalinya kembali sebab semakin banyak cerpen yg ditulis pasti harus sering dpt ide, kan?
Ririen Narsisabiz Pashaholic Mas guntur pernah nulis cerpen fantasy gak? terus tau gak media yNg memuat genre fantasy? majalah kan kebanyakN romance
Kamiluddin Azis Keduluan nanya oleh Nimas Kinanthi, tapi saya agak vulgar dikit nanyanya. Menurut pendapat Mas Guntur Alam, menjadi cerpenis khususnya, dan penulis pada umumnya (yg standar, blm sespekta penulis besar) apakah bisa menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan? Saya lagi cari penguatan nih, hehe...
Guntur Alam Sebenarnya saya orangnya agak pemalas dan moody. Nggak produktif banget sih. Cuma bersyukurnya, kebanyakan yang saya tulis justru dimuat. Jadi kesannya rajin banget ya nulis cerpen. Padahal kadang sebulan nggak nulis cerpen. Kalau lagi semangat, 1 cerpen bisa selesai 2 jam. Kalau lagi buntu ilham. Saya jalan-jalan ke toko buku. Baca buku-buku cerpen, novel dalam dan luar negeri, baca majalah, dan sebagainya. Kadang juga saya duduk di cafe, sekedar nongkrong dan minum kopi. Banyak cerpen saya yang didapat dari nongkrong. Kayak cerpen "Mata Sayu Itu Bercerita" dimuat Kompas bulan Mei 2010.
Nimas Kinanthi Maaf nih klo tanyanya soal 'duit' Mas hehehe. Saya baru belajar nulis cerpen, jauh dibanding Mas Guntur. Bbrp kali اَلْحَمْدُلِلّهِ dimuat dimedia. Tapi tidak semua media yg memuat cerpen sy ngasih honor. Sdh sy tanyakan sampe 2x lwt email nggak ada tanggepan. Jadinya ya, ikhlasin aja... Apa Mas Guntur prnah mngalaminya juga? Sy smpet berpkir apa krn sy masih baru alias pemula gitu, jdnya media mikir 'sdh dimuat sdh syukur kan...'
Guntur Alam Pernah. Cerpen fantasy remaja saya, Black Hole, C-59, Kumari. Dimua Majalah Story sekitar tahun 2010-2011.
Kamiluddin Azis Ririen Narsisabiz Pashaholic di Story ... saya sering baca dan pernah baca karya Mas Guntur juga. Rien mau tanya honor di Story? ayo jangan malu, hehe
Guntur Alam Nulis cerpen ini seperti bermain hoki, Kang Kamiluddin Azis. Saya beberapa kali beruntung dalam satu bulan dimuat Kompas, Tempo, Femina, dan media-media lainnya. Hingga honornya menyamai gaji ketika digabungkan. Berasa gajian 2x dalam sebulan. Tapi nggak tentu juga. Persaingan nulis cerpen itu ketat. Bila mau menggantungkan hidup di cerpen agak sulit, tapi bila nulis buku bisa. Banyak yang sudah buktikan akhir-akhir ini.
Guntur Alam Pernah saya alami seperti itu, Nimas Kinanthi. Dan medianya langsung saya black-list alias nggak saya kirimi lagi karya. Penulis harus jual mahal juga. Lihat SINDO sekarang, rubriknya tutup karena gak bayar honor penulis dan dilokir para cerpenis. Lucu aja honor 400 ribu gak kuat bayar media sebesar itu. Cari media yang menghargai penulis. Ada media lokal yang honor lancar walau cuma 200 ribu seperti Tribun Jabar, Radar Surabaya.
Ririen Narsisabiz Pashaholic Sekarang kan banyak penulis cerpen muda berbakat BerMunculan. gimana trik kamu bertahan di dunia tulis ini? *kepo.Com
Kamiluddin Azis Mas Guntur Alam ini bekerja kantoran juga kan? Lulusan Tekhnik... apakah pernah nulis yg berkaitan dg background pendidikan? waduh maaf ya Mas, ni pertanyaan lompat2 kayak kutu...
Kamiluddin Azis Nimas Kinanthi amin, JURAI akan menjadi koleksi buku saya berikutnya, penulisnya saja sudah menginspirasi dan membuat semangat saya membara, apalagi karyanya...
Guntur Alam Tapi hati-hati juga nerbitin buku, Nimas Kinanthi. Banyak penerbit yang dzalim sekarang. Beli putus naskah dengan harga sangat murah 1-2 juta saja. Padahal bila royalti, penulis bisa dapat berkalilipat dari itu. Standar royalti kan 10%, walau ada juga yang 8% untuk pemula.
Nimas Kinanthi Penulis harus jual mahal juga. Suka dengan kata2 ini. Trima kasih Mas Guntur repotnya klo sudah dijual murah aja nggak ada yang beli ...
Guntur Alam Seperti yang saya bilang di awal, untuk survive di dunia kreatif, kita harus terus berinovasi. Menggali ide-ide baru, genre baru, dsb, Ririen Narsisabiz Pashaholic. Jangan pernah berdiam terlalu lama dalam zona aman.
Ririen Narsisabiz Pashaholic Saya mah kurang bersemangat ngejar honor di media. wong aku ngejar mayor labels kok,Impianku novelis kayak mamah fitria
Nimas Kinanthi Brarti standar beli putus yang 'nggak terlalu murah' itu berkisar berapa ya Mas?
Guntur Alam Hahahahaha...
Saya dulu sewaktu masih mahasiswa dijuluki anak sastra yang tersesat di teknik, Kang Kamiluddin Azis. Sayangnya belum pernah nulis yang berhubungan dengan itu selain skirpsi dan laporan PKL.
Nimas Kinanthi @ririen : berkarya di media bukan sekedar ngejar honor Mbak. Itu ajang pembuktian diri juga dalam berkarya sb nembus media itu nggak mudah, jauh lbh susah drpd even2 antologi...
Kamiluddin Azis Nimas Kinanthi cerpen penulis besar aja ada yg dibayar sama dengan harga beli putus naskah novel, hehe, hasil cari2 info...
Kamiluddin Azis Guntur Alam Alhamdulillah bisa bikin dirimu ketawa pernah nulis cerpen komedi?
Nimas Kinanthi @Kang Aming: yupp! Siapa Kang? Penasaran... Banyak sekali cerpenis media yg bermetamorfosa mjd novelis, dan biasanya lgsg ngehit sb nama mrk sdh tenar sblnya. Mas Guntur ini salah satunya menginspirasi sekali!
Guntur Alam Jangan anggap remeh honor media, Ririen Narsisabiz Pashaholic. Kadang, banyakan honor media ketimbang royalti dari novel. apalagi jika novelmu hanya dihargai beli putus karena kamu belum dikenal. Lewat media massa, kita "mencari" nama, jadi saat novel kita dilirik penerbit, kita punya nilai tawar. Saya bahkan menolak mentah-mentah kontrak salah satu penerbit di Jogja. Kamu harus belajar lebih banyak untuk paham dunia literasi kayaknya.
Kamiluddin Azis Kalau sudah banyak nampang di koran, majalah, dll, begitu kirim novel ke mayor, bisa langsung diterima Ririen Narsisabiz Pashaholic, kayak Mas Guntur Alam ini...
Sherina Salsabila ummm.... diskusi ini jadi menarik, karena kak Guntur Alam telah membuat mata ku terbelalak betapa aku sangat 'mahal' ya dengan semua yg ada dikepala haha makasih mas broo
Guntur Alam Kalau kamu sudah dikenal sebagai penulis, Ririen Narsisabiz Pashaholic. "Harga" karyamu akan jauh lebih mahal. Penerbit mayor nggak akan berani menawarmu dengan beli putus atau royalti di bawah standar. Bahkan kamu bisa menawarkan pilihan yang lebih mahal, persnetasi royalti, dan uang muka.
Guntur Alam Nah, salah satu cara untuk "dikenal" bisa lewat karya di media massa.
Kamiluddin Azis Sherina Salsabila kita harus berani jual mahal, hehe.. apalagi dirimu sekarang sudah tenar... Mas Guntur Alam lebih kental drpada kopi saya, jd bikin saya melek, dan niat begadang malam ini buat bikin cerpen, tapi eh, kok bisa 2 jam sih Mas nulisnya? Waduh...
Ririen Narsisabiz Pashaholic bukan menganggap remeh honor media masalahnya aku kurang bisa bikin cerpen. cerpenku selalu kebablasan 20Hal
Guntur Alam Untuk cerpen Komedi belum. Tapi novel komedi pernah, 1 kali pakai nama asli. JombloCenatCenut.Com di Media Pressindo, Jogja. Dan 2 lain pakai nama samaran karena nggak pede.Sialnya, yang pakai nama samaran malah cetak ulang smapai 4x. Gak apa-apa. Yang penting royalti lancar jaya.
Kamiluddin Azis Oh iya Jomblo cenat-cenut. Eh Mas Guntur Alam dulunya sering ikut2 lomba menulis cerpen online gak? Pernah nerbitin buku di indie label?
Ririen Narsisabiz Pashaholic Mas guntur nanya lagi ada niat gak pindah haluan jadi penulis skenario sinetron juga? kayak om herry b arissa
Guntur Alam Betul! Ketika kita punya nama di media massa. Editor-editor akuisisi itu sibuk mencari alamat email dan kontak kita, bertanya apakah kita ada naskah novel untuk mereka. Terus terang, saya mengalami sendiri sekarang. BUKAN berniat sombong tapi agar teman-teman jangan meremehkan menulis di media massa. Selain ajang pembuktikan kualitas tulisan, ajang kita untuk dilirik. Jujur, sudah ada beberapa penerbit mayor yang menghubungi saya untuk menulis novel di mereka. Tanpa antri naskah dulu, bahkan ada yang minta buat kerangka saja dulu, Mas. Nulisna bisa nanti. Nah, bagaimana saya bisa dapat tawaran seperti itu jika saya tidak dikenal lewat karya di media massa.
Guntur Alam Belum ada niat ke sana. Mungkin karena saya nggak suka nonton sinetron jadi belum ada niat nulis skrip.
Nimas Kinanthi Wah...speechless deh. Jd semangat nulis ke media lagi...
Kamiluddin Azis Salut, keren.... saya mau ikut jejak Mas Guntur Alam, diketok2in pintu rumah saya, dimintai naskah, dibayar mahal pula... lirik Nimas Kinanthi .. ayo ... Mas, kasi kuncinya dong ... how we can do better?
Guntur Alam Saya gak suka ikut lomba-lomba indie di FB. Karena maaf, kualitasnya nggak bagus. Nggak ada yang bisa didapat dari sana, seperti pelajaran dalam menulis lebih baik lagi --ini pendapat saya. Saya lebih suka "bertarung" di lomba yang sesungguhnya kayak di majalah, dsb.
Ayuni Adesty Ada niatan buat ngebukuin naskah-naskah yang sudah terbit di media buat dijadiin kumcer?
Ayuni Adesty Mas Guntur Alam kalau naskah cerpen sekelas kompas, masih diedit lagi sama redaksinya atau gimana?
Guntur Alam Media besar biasanya nggak sembarangan ngedit, Ayuni Adesty. Waktu cerpen di Kompas, judul awalnya "Maryam Beranak di Limas Isa". Terus mau dipotong jadi "Mar Beranak di Limas Isa", editornya nelpon dulu untuk izin, jika nggak saya izinkan, nggak dipotong.
Guntur Alam Makanya, kirimlah karya ke media massa, Nimas Kinanthi, Kamiluddin Azis. Dan ikuti lomba-lomba novel mayor. Jangan berkutat di indie dan antologi terus. Indie bukan nggak bagus. Cuma nggak ada seleksi yang ketat buat kita perbaiki kualitas karya.
Kamiluddin Azis Mas, kekuatan 'Mar Beranak di Limas Isa' itu apa ya dibanding cerpen2 pilihan Kompas lainnya? Buku Kumcer Pilihannya saya cari di mana ya? Kemarin di pameran Ikapi saya nggak nemu
Kamiluddin Azis Wah, kapan2 kalau grup ini ngadain lomba, moga Mas Guntur Alam mau jadi jury finalnya ... hehe ngarep...
Guntur Alam Ada di Gramedia bukunya. Kekuatan cerpen itu ada di tema cerita. Yakni tema patriarkhi alias penindasan terhadap perempuan. anak perempuan dianggap nggak berharga dibanding anak laki-laki, makanya tokoh Mar dipaksa untuk terus hamil dan beranak lagi sampai ia punya anak laki-laki. Itulah yang disebut patriarkhi.
Guntur Alam 15 menit lagi. Masih ditunggu sampai 22.20
Kamiluddin Azis Saya nggak nyangka kalau diskusi malam ini benar-benar beda, Selain karena temanya tentang CERPEN dan media (Khusus bulan ini masih tentang CERPEN, CERPENIS, dan MEDIA) juga pembuka diskusi bulan ini adalah penulis cerpen pilihan Kompas tahun 2011. Apa yg Mas Guntur Alam share malam ini sangat sangat sangat bermanfaat buat saya dan sahabat2 di grup ini... saya sampai bingung mau resume seperti apa, semuanya harus dibaca, setiap pertanyaan menemukan jawaban.
Guntur Alam Hadiah kuis berhadiah buku terbaru ada di twitter, Ririen Narsisabiz Pashaholic. Nanti ada juga lomba menulis resensi yang berhubungan dengan buku saya yang lain. Hadiahnya 1.5jt, 1jt, dan 500 ribu. Tapi nanti itu, akan diumumkan 11-12 Maret di status saya.
Kamiluddin Azis Sebelum ditutup, Mas 1 lagi mungkin dari saya, soal diksi. Diksi seperti apa yg paling disukai KOMPAS, TEMPO, Pikiran Rakyat atau media nasional lainnya secara umum.
Eric Keroncong Protol mas Guntur Alam apakah ngefek belajar nulis menulis melalu online yang sekarng lagi marak?
Nimas Kinanthi Siiiip! Iya, Mas Guntur Alam. Terima kasih inputnya yang sangat bermanfaat.
Guntur Alam Kata Mbak Helvy Tiana Rossa, "sampai botak pun kamu belajar teori menulis, kamu nggak akan bisa menulis, jika kamu nggak praktik." Semoga menjawab, Eric Keroncong Protol.
Kamiluddin Azis Aduh keingetan sama Eric Keroncong Protol ada daftar pertanyaan di kepala saya yg belum tersampaikan. Setelah dikenal luas oleh masyarakat dan juga penulis2 muda, apakah ada niatan atau sudah berjalan Mas Guntur buka kelas menulis dan sejenisnya?
Ayuni Adesty |
*jawaban yg JLEB
Guntur Alam Mengenai diksi, Kang Kamiluddin Azis. Sesuaikan saja dengan kemampuan kita. Jangan benriat untuk menjadi orang lain. Percayalah, bahasa yang sederhana tapi cerpennya berisi akan jauh lebih baik daripada sok berpuitis atau berindah-indah tapi gak ada makna dan gak jelas apa yang diceritakan.
Eric Keroncong Protol mas Guntur Alam kalau yang buka kelas menulis onlien tuh penulis terkenal sekaligus?
Guntur Alam Nggak ngaruh kalau nggak ada niat dalam diri kita untuk praktik, Eric Keroncong Protol. Sekali pun yang ngajari kamu dewa dan kamu gak pernah mempraktikan ilmunya, kamu gak akan jadi dewa.
Guntur Alam Membuka menulis online? Belum ad aniat, nggak punya waktu. Walau sebenarnya ada beberapa editorku di penerbit major yang nanya-nanya, "mas punya teman yang ada naskah novel atau dibimbing nulis novel. Boleh loh disalurkan ke kita." Tapi saya belum sanggup untuk bimbing orang. Takutnya gak ada waktu, kasihan.
Kamiluddin Azis Jadi pede saya dengan diksi yg sering saya pakai, mengalir bagai air, hehe #ngeles karena gak bisa puitis.... Oke Mas Guntur Alam (lupa nanya kenapa namanya guntur alam ya, serasa menggelegar dengarnya...) waktunya mungkin sampai di sini saja diskusi kita malam ini, terima kasih sudah meluangkan waktunya, berbagi dan menyadarkan kita akan banyak hal... dan sebelum tutup, kalau berkenan memberikan closing spirit dan bila perlu tips jitunya deh (mungkin td gak ada yg nanya, tp sebenarnya Mas-nya mau share juga, monggo Mas, ditunggu, hehe).... Sekali lagi terima kasih banyak ya Mas, kehadiran Mas di grup ini sangat menginspirasi kami semua
Guntur Alam Ok, sama-sama sudah mengajak berbagi. Mohon maaf jika saya ngomongnya ceplas-ceplos. Saya memang gak pinter basa-basi, lebih suka ke intinya. Makanya banyak yang kapok kalau minta saran dan kritik tulisan, akrena komentar saya selalu pedas. Jelek bilang jelek, kalaupun bagus, ya tetap bilang bagus aja.
Guntur Alam Saran saya: Menulislah sesuai kemampuan kita. Jangan pernah berusaha jadi orang lain. Menulis itu bukan hal instan. Perlu usaha dan kerja keras. Kamu nggak akan bisa jadi penulis dalam semalam. Perlu komitmen waktu dan banyak hal. Makanya, hargailah karya dan usahamu sendiri. Bila kamu menghargainya, orang akan menghargai pula.
Guntur Alam Sudah saatnya kamu naik kelas. Jika sudah lama bergelut di antologi, sudah masanya kamu nulis buku sendiri di mayor. Semua berawal dari nothing menjadi something. Pertanyaannya: Untuk apa buku antologi indie sampe ratusan judul itu? Dipajang di lemari kaca ruang tamu buat pamer? Terus di makan rayap? Itu hal yang "bodoh" sekali. Menulis untuk menginspirasi, dibaca, dan dihargai --dalam baik dan buruk kritik. Bukan hanya sekedar di pajang. Jadi menulislah yang sebenar-benarnya menulis. Harga idemu mahal. Jutaan. Bahkan milyaran. buku sekelas akun-akun twitter saja dapat royalti puluhan bahkan ratusan juta. Cerpen di media massa dapat honor ratusan ribu. Masak iya, kita masih bergelut di antologi yang nerbitin juga harus bayar dan ujung-ujungnya keluar duit buat beli lagi. Itu bukan belajar menulis.
Guntur Alam Selamat menulis. Selamat berkarya. Semoga menginspirasi sesuai nama grup ini. Sekali lagi mohon maaf bila kata-kata saya ada yang nggak enak dibaca. Saya nggak berniat menyinggung siapapun. Jika ad ailmunya silakan ambil, jika nggak ada, kotak sampah ada di ujung, silaka buang. Selamat malam...
Sherina Salsabila aku SUKA kau Bang Guntur Alam
Kamiluddin Azis makasih banget Mas... untung saya doyan pedes... sebentar lagi saya masak mie instan pake cabe rawit..... Sherina Salsabila love U too, hehe....
Ririen Narsisabiz Pashaholic Kata2 Mas guntur menohok banget tapi aku suka soalnya berbicara apa adanya.
Guntur Alam Love you too, Guys. good nigth. Nice dream. Jangan sungkan bila mau nanya via inbok. Tapi mohon maaf bila balasnya lama. Berarti saya sibuk.
Guntur Alam Oh, ada yang lupa dijawab setelah dibaca: Harga beli putus naskah novel biasanya berkisar 3-4 juta, Mbak Nimas Kinanthi. Itu pun punya masa. Semisal masa belinya 3-5 tahun, setelah selesai, hak naskah balik lagi ke penulis. Dan tiap cetak ulang, penulis dapat lagi 3-4 juta seperti di awal cetakan pertama. Semua tergantung dengan kontrak. Makanya harus jeli. Kalau cuma dibeli 1-1.5 juta. Aduh, itu murah sekali. apalagi tiap cetak ulang gak dapat lagi. Makin murah itu. Dan saatnya saya tidur, takut kesiangan di hari Senin.
Mazaya Eaw Azza wah, semalam jaringanku putus tus tus... aku cuma mau bilang terima kasih banyaaakkk...buat mas guntur..g
Aldy Istanzia Wiguna diskusi ini mengingatkan saya pada sebuah makalah yang ditulis bang Guntur Alam. beruntung sekali bisa punya makalah sederhana itu. masih dipelajari dan sepertinya siap-siap untuk membuat karya yang nyes banget
Ririen Narsisabiz Pashaholic Honor itu klo dah sama2 Deal langsung dibayar tapi klo Royalti itu bisa dicairkan 3 Bulan sekali hasil penjualan buku
Aldy Istanzia Wiguna oh begitu rien. tapi setahu saya honor menulis di media kan sudah ditentuin oleh korannya sendiri ya. oh iya, mau ralat yang diinbox soal tulisan saya di NB. kemarin royaltinya sudah nampak. ternyata bukannya tidak ter"jual" alias nggak laku. tapi gak kebuka soalnya lupa password. hehe #baca ulang makalah Menembus Media Massa karya bang Guntur Alam. hehe
Ririen Narsisabiz Pashaholic Aldy tapi kan langsung dibayar, gak nunggu hasil penjualan dulu.
Aldy Istanzia Wiguna iya langsung dibayar
Bottom of Form


Tidak ada komentar:

Posting Komentar