PESERTA 'GACAK' S/D TGL 14 MEI 2012

  • menyukai ini.
    • RM Prast Respati Zenar
      JUM’AT BERSIH
      Mengajar di pedalaman memang unik, terkadang menyisakan cerita yang membuatku cukup tensi alias malu sendiri.
      Setiap hari jum’at dikelasku selalu ada materi tentang menjaga kesehatan. Seperti biasa, aku langsung mencek satu persatu muridku dan dipastikan selalu saja ada yang menjadi korban (biasanya aku tersenyum puas). Jum’at yang lalu korbannya adalah Amir, muridku yang bandel, karena rambutnya panjang dan disisir gaya punk (lagi trend anak muda di Malaysia), aku langsung mengambil gunting dan kress..! nasib rambut amir yang kemerahan masuk keranjang, itupun setelah aku susah payah memotongnya, karena dilumasi dengan gel yang keras. Amir kemudian keluar, tapi lama ditunggu tidak juga muncul, eh tidak tahunya dia menangis dipojok WC meratapi nasib rambutnya.
      Nah, jum’at kemarin ada kejadian yang unik.
      “Semua tangan diatas meja, tidak ada satupun tangan yang dibawah, cepat!”
      Aku keliling sambil melihat jari-jari mereka. Kali ini ada beberapa muridku yang kukunya panjang.
      “Apa perjanjiannya kemarin dulu?”
      “Yang kukunya panjang harus dipotong cikgu.” Jawab murid-muridku yang kukunya pendek dengan semangat.
      “Potong...potong…potong!” Mereka teriak-teriak.
      Suatu hal yang belum aku sadari sendiri, ternyata kuku jariku panjang semua. Oh, tidak! Demi apapun aku tidak rela memotong kukuku yang manis ini.
      “Tapi kuku bapak kan bersih.” Aku cari alasan dan cepat-cepat keluar kelas. Dasar!
      (Sukamto Prasetyo, Guru, Malaysia)
      9 Mei pukul 23:49 · · 3
    • Asep Fauzi Sastra
      TRAGEDI MALL
      Ketika itu aku baru saja menginjakkan kakiku di sebuah pusat perbelanjaan yang ada di ibukota provinsi tempatku tinggal. Aku berada disitu juga bukan karena sengaja, tapi karena kebetulan aku bersama sejumlah teman-temanku mewakili kabupaten dalam acara PORSENI.
      “Silakan kalian jalan-jalan, tapi pukul 14:00 sudah harus berkumpul di Bis lagi ya,” kata guruku.
      Aku langsung berjalan menyusuri Mall itu kini dengan Rudi, temanku. Lalu kami masuk ke sebuah tempat penjualan baju, mata orang desa yang menempel di wajah kami langsung terbelalak, takjub. Apalagi para penjaganya semuanya cantik.
      “Baju yang ini harganya berapa Mbak?” Rudi bertanya, padahal disitu sudah tertera harganya.
      “Sembilan puluh lima ribu De,” jawab wanita itu sambil menunjukkan harganya.
      “Gak bisa lima puluh ribu aja yah?” Rudi menawar.
      Pelayan itu pun tertawa. Aku juga ikut nyengir tak mengerti.
      Akhirnya Rudi membeli baju itu dengan harga awal setelah ngeyel menawarnya. Baju pun dibungkus, kami kembali berkeliling melihat-lihat. Lalu bergerak menuju pintu keluar tanpa berfikir telah melupakan sesuatu. Betapa terkejutnya aku melihat para penjaga keamanan Mall sibuk mengintai kami sambil menggunakan orarinya.
      “Ah…, belum bayar ke kasir,” batinku. Padahal tinggal beberapa langkah saja kami akan keluar dari tempat itu. Aku langsung menarik tangan Rudi menuju kasir.
      "Huh…, hampir saja."
      (Asep Fauzi Sastra, Mahasiswa, Kotabaru)
      10 Mei pukul 1:12 · · 2
    • Nanakoha Setyawan
      PANGERAN LAGI APES

      “Aduh, terlambat!” Doli setengah berlari menuju ruang kelasnya.

      Pagi itu seluruh siswa sudah masuk ke kelas masing-masing, Doli yang terlambat datang pasang muka cemas sambil berjalan cepat ke kelasnya. Pintu kelas di tutup oleh Guru yang mengajar, Doli melongok dari jendela, Bu Sukatinah, Guru Agama sedang menerangkan pelajaran di depan kelas. Bu Sukatinah adalah Guru yang paling santai, sama sekali tidak galak dan tidak pernah marah. Lalu munculah ide jahil di pikiran Doli.

      Doli melipat lengan bajunya, dan meninggikan kerahnya. Dengan percaya diri berlebihan Doli menendang pintu kelas lalu berdiri di depan kelas, tepat di samping Bu Sukatinah sambil berpose seperti pangeran bertopeng di film Shinchan

      “Akulah pangeran bertopeng yang terlambat datang! Ha ha ha”
      Seisi kelas terkejut dan menatap ke arahnya, termasuk Bu Sukatinah.

      “Apa-apaan kamu? Duduk!” Seseorang yang duduk di deretan bangku paling belakang tiba-tiba membentaknya

      “Eh, maaf Pak” ucap Doli sambil menunduk, malu sekaigus takut. Ternyata hari itu kepala sekolah sedang mengadakan peninjauan terhadap kinerja guru, dan pagi itu adalah giliran kelas Doli. Kepala sekolah duduk di deretan bangku belakang kelas, betapa takutnya Doli hari itu, sehingga selama pelajaran berlangsung, wajahnya terus tertunduk.

      (Nanakoha, Karyawati, Pekanbaru)
    • RM Prast Respati Zenar
      TEBAKAN
      Hari jum’at sore murid-muridku praktik membatik di rumah, setelah jum’at yang lalu praktik boga, membuat kue yang hasilnya bantat semua.
      Selesai membuat desain gambar di kain putih, yang hasilnya sedikit mengecewakan, murid-muridku istirahat sambil bermain tebak-tebakan. Padahal aku lagi meredam kekecewaan karena hasil karya mereka. Satu persatu mulai melontarkan pertanyaan dan yang lain saling menjawab.
      “Buah apa yang tidak ada bijinya?” Semua menjawab termasuk aku, tapi tidak ada yang betul.
      “Buah hati.” Dijawabnya sendiri
      Setelah semua memberi pertanyaan masing-masing, tibalah giliranku. Ini adalah pertanyaan yang mungkin di Indonesia sudah pada tahu, tapi di Malaysia, buat mereka adalah suatu yang baru, belum pernah didengarnya. Hitung-hitung ngilangin kecewa.
      “Sebutkan nama buah yang pakai huruf N, sepuluh saja!” Aku memberi pertanyaan asal.
      “Nangka!”
      “Bagus.” Kuacungkan jempol
      “Naga fruit!”
      “Betul.” Jawabku
      “Nanas!”
      “Hebat!” Aku kasih kesempatan kepada mereka sambil betulin gambar.
      Akhirnya mereka mulai menyerah.
      “Cuma tiga cikgu, mana ada lagi?” Protesnya
      “Ada…masih banyak lagi.” Jawabku santai, karena aku sudah ngebayangin ekspresi mereka ketika tahu jawabannya
      “Ayolah cikgu, apa jawabannya?”
      Kubuat mereka penasaran.
      “Nomat, Nunian, Nambutan, Nimun…bla…bla…bla” Kusebutkan semua nama buah dengan logat orang sengau, tapi belum sempat sampai sepuluh, mereka sudah terguling-guling di lantai sambil menahan tawa yang tiada berhenti. Rasain! Bathinku.
      (Sukamto Prasetyo, Guru, Malaysisa)
    • Asep Fauzi Sastra
      GANTENG
      Pagi itu seperti biasa aku sudah berada dalam angkutan kota, menuju ke sekolah. Lalu roda kembali berhenti tepat di depan rumah temanku, Mada. Angkot pun kembali melaju menapaki jalan aspal yang masih menggigil.
      Aku merogoh saku seragam putihku, kudapati satu lembar uang ratus ribuan. Kebetulan Ibu baru saja memberi uang jajanku untuk satu minggu ke depan.
      “Sepagi ini pasti tidak ada kembaliannya,” batinku.
      “Da, tolong bayarkan dulu ya ongkos angkotku. Nanti aku ganti,” bisikku pada Mahda.
      Ia terlihat bingung, lalu mengangguk seadanya.
      Tak terasa roda angkot sudah dipaksa berhenti tepat di jalan menuju sekolahku. Aku turun dan langsung melangkah menuju sekolah. Kulihat Mahda membayar ongkos angkotnya, lalu berhasil mengejar langkah tepat di belakangku.
      Tit
      Tit
      Suara klakson menghentikan langkahku, aku pun menoleh.
      “Woi…, mau belajar pikun kamu ya,” teriak penarik angkot itu sambil menunjuk ke arahku.
      “Kenapa Pak?” tanyaku, bingung.
      “Belum bayarkan?” katanya, sambil terus ngomel. Aku makin bingung. Kuhempaskan pandanganku pada Mahda, tapi ekspresinya datar.
      “Aku tadi bilang bayarkan dulu, nanti aku ganti,” nadaku agak meninggi, kesal.
      “Oooh,” ucapnya, sambil menghampiri penarik angkot dan mengulurkan uang seribu rupiah.
      Meski darah sudah hangat sepagi itu, tapi ada juga rasa ingin kudendangkan tawa melihat Mahda. Ternyata dia ganteng (gangguan telinga).

      (Asep Fauzi Sastra, Mahasiswa, Kotabaru)
    • Bayu Rhamadani W
      ANGKA SENSITIF

      Aku mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Bali pada bulan Maret 2009. Aku harus melakukan wawancara kepada penduduk yang telah menjadi sampel pencacahan.

      Aku merasa grogi saat mendatangi rumah penduduk yang pertama. Namun, tetap kulangkahkan kaki seraya mengucapkan, “Bismillah.”

      Seorang bapak keluar rumah dan aku mulai memperkenalkan diri. Aku juga menjelaskan maksud dan tujuan datang kemari.
      ***

      “Perkiraan harga sewa rumah per bulan berapa, Pak?”

      “Rumah saya tidak disewakan, Nak.”

      Rumah bapak ini memang tidak disewakan sehingga harga sewanya harus diperkirakan. Aku mencoba bertanya dengan pemisalan saja.

      “Kalau misalnya saya mau menyewa rumah bapak selama saya ada di sini, kira-kira harga sewa per bulannya berapa?”

      “Misalnya saja, Nak?”

      “Iya, Pak.”

      “Tetapi kalau kamu tinggal di sini, nanti kami sekeluarga tinggal di mana?”

      “...”

      Bahasa yang kugunakan untuk bertanya sudah dibuat sesederhana mungkin. Namun, tetap saja bapak ini salah mengerti. Serba salah lagi, tetapi aku yakin galau pasti berlalu.

      Tak terasa hampir dua puluh menit diriku berkutat pada pertanyaan sewa rumah. Alhamdulillah akhirnya bapak ini bisa menyebutkan nilainya. Perjuangan yang sangat berat bagiku untuk mendapatkan angka tersebut.

      Untung saja pertanyaan-pertanyaan berikutnya dapat dijawab bapak ini dengan baik. Setelah semua pertanyaan selesai, aku mengucapkan terima kasih seraya memberikan souvenir kepada bapak tersebut.

      (Bayu Rhamadani Wicaksono, Tukang Sensus di BPS, Jakarta Pusat)
    • Asep Fauzi Sastra
      ALAMAK, SALAH MASUK
      Bulan ramadhan itu aku tidak ingin seperti ramadhan sebelumnya, tidak punya aktivitas. Meskipun aku baru di kota itu, aku putuskan untuk ikut kegiatan pesantren ramadhan, sesuai tawaran temanku Fatur.
      Sekilas kubaca pesan singkatnya.
      “Di Jl. SMPN 5 Zi…. .”
      Pagi itu pun tiba, hari pertama aku akan mengisi bulan puasaku. Aku sudah sampai di Jl. SMPN 5. Aku bertambah semangat ketika melihat rombongan anak laki-laki dan perempuan sama juga berbaju kokok dan muslim sepertiku.
      Lalu aku mendatangi salah satu ustadznya, tebakku.
      “Pak, saya Ozi. Tinggal di Jl. Suryawangsa. Saya mau ikut kegiatan pesantren di sini Pak,” ucapku, antusias.
      Bapak itu seketika terlihat bingung.
      “Iya, silakan Nak, bagus kalau kamu mau ikut belajar. Masuk di ruang sana ya Zi,” ucapnya, sambil menunjuk salah satu ruangan.
      Pelajaran pun dimulai, tetapi ada keanehan yang aku tangkap.
      “Kenapa semua pesertanya siswa SMPN 5 semua ya?” batinku, setelah sebelumnya aku bertanya pada teman sebangkuku.
      “Ini memang sekolah SMPN 5 Ka,” ucap Ridha. Jawabannya itu mengiang geli dan mengundang keringat malu di sekujur tubuhku.
      “Astagfirullah,” batinku, sembari menutup wajah.
      Kurogoh hape yang ada di saku, aku ingin membaca ulang sms Fatur.
      “Di Jl. SMPN 5 Zi, dekat sekolahan SMPN 5.”
      “Ha.Ha.Ha,” batinku, tergelagak.
      (Asep Fauzi Sastra, Mahasiswa, Kotabaru)
    • Bayu Rhamadani W
      SANDAL YANG TERTUKAR

      Aku pergi ke tempat fotokopi dekat kontrakan. Masa Ujian Akhir Semester (UAS) adalah masa fotokopi catatan materi mata kuliah milik teman untuk bahan belajar. Hal ini kulakukan karena aku malas mencatat di kampus.

      Di saat menunggu hasil fotokopi, aku mendengar dua orang ibu yang sedang berbincang-bincang. Ibu yang satunya adalah Bu Wildan, istri pemilik tempat fotokopi dan ibu yang satunya lagi adalah seorang pembeli.

      “Bu, coba lihat sandal anak itu. Kok beda sebelah?” tanya ibu pembeli.

      “Sandal itu memang lagi model sekarang,” sambung Bu Wildan setelah mengamati sandal milikku dengan saksama.

      “Bukannya tertukar ya, Bu?” Ibu pembeli semakin merasa penasaran.“Nggak, Bu. Anak saya kemarin minta dibelikan sandal seperti itu juga,” kata Bu Wildan meyakinkan ibu pembeli.

      Semakin lama semakin tidak ada yang mau mengalah. Mereka berdua merasa dirinya yang benar. Sepertinya perbincangan ini telah menjadi perdebatan sengit.

      Karena merasa penasaran, aku melihat sandal milikku. Astaghfirullah. Ternyata sandal milikku memang beda sebelah. Sandal yang tertukar. Pantas saja ketika diriku bertemu teman di jalan tadi, dia menahan tawa sewaktu hendak menyapaku.

      “Maaf, Bu. Sandal saya memang tertukar di mushola.” Aku menyela perbincangan kedua ibu tadi.

      Mereka berdua tak kuasa menahan tawa. Aku menjadi malu sendiri karena memakai sandal yang tertukar.

      (Bayu Rhamadani Wicaksono, Tukang Sensus di BPS, Jakarta Pusat)

1 komentar:

  1. ayah..... punyaku kok g ada? boleh 2 kali kirim gacak nya ya? by ririen narsisabiz pashaholic(nama fbku)

    BalasHapus