Cerpen Berkait - Misteri

Pada tanggal 19 Februari 2012 RBPI pernah memancing anggota grup untuk membuat sebuah cerpen berkait. Ini adalah salah satu usaha admin untuk mengasah kreativitas dan kepekaan penulis jika disuguhkan pada sebuah gagasan yang mendadak muncul. Cerpen berkait ini dibuat oleh beberapa sahabat inspirasi dengan cara menyambungkan cerita dari sahabat sebelumnya. Berikut cuplikannya



Rumah Buku
Sekelebat cahaya tiba-tiba melintas di balik punggungku. Aku menoleh dan memastikan kalau itu hanya halusinasiku. Dalam keadaan gelap gulita, rumah sebesar ini pun terasa pengap. Aku mencoba meraba setiap benda yang bisa kugapai saat berjalan. Sesuatu terjatuh. Sepertinya guci antik milik kakekku pecah tersenggol kakiku. Bersamaan dengan itu terdengar suara orang melenguh. Desahnya terasa sangat dekat. Suaranya lirih seolah sedang menahan sakit yang tiada tara. Siapa itu?
Setahuku tidak ada siapapun di rumah tua ini selain aku dan Pak Tohir, penjaga kebun kami yang sejam lalu pergi untuk membeli gas.
... penasaran? silakan lanjutkan ceritanya menurut versi kamu masing-masing,
tunggu 1 comment, baca, lalu comment lagi dengan menyebutkan : lanjutan comment 'siapa' buat menjadi novel misteri berkait... semakin seru kayaknya...
· · · 19 Februari pukul 12:44



    • Dedi Prestiadi dengan desahan nafasnya ia tahan rasa sakitnya, kakinya berdarah meneter membasahi lantai marmer kakekku. dengan terseret-seret lelaki misterius ini bersembunyi dibalik kegelapan...

    • Marlyn SaimaruChrist BlueAngel Dari komentar kak "Dedi Prestiadi":
      Sekilas dapat kulihat wajahnya. Sungguh! Hatiku meringis, rasanya aku ingin berteriak. Tapi lidahku terlalu kelu.

      Wajah lelaki itu..
      Tak dapat kujelaskan! Hancur!

      Aku hanya mampu terpaku menatapnya.


    • Dedi Prestiadi dari coment Marlyn SaimaruChrist BlueAngel dari kegelapan wajahnya terlihat mengerikan, hanya sorot matanya yang memerah yang dapat aku lihat,

      "sssssttttt ..." lelaki itu mendesah..

      "gubrakkkk..." terdengar lelaki itu terjatuh, menahan rasa sakit yang membelitnya.


    • Marlyn SaimaruChrist BlueAngel Dari komentar kak "Dedi Prestiadi":

      Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Tubuhku masih kaku membeku.

      Satu pertanyaan yang masih berkelebat dalam pikiranku. "Siapa dia?"

      Perlahan kupahami tiap jengkal tubuhnya. Kuyakini diriku, dia bukan hantu atau dedemit manapun. Dia masih menginjak tanah. Bahkan dia terluka! Tidak kisah misteri manapun, dimana ada hantu yang berdarah terkena pecahan guci.

      Jelas! Tante Ana tak pernah menceritakannya. Yang beliau katakan, hanya ada Pak Tohir yang mendiami villa ini. Lalu siapa dia?


    • Dedi Prestiadi Marlyn SaimaruChrist BlueAngel: rasa penasaranku semakin memuncak. aku panik, harusnya rumah ini tidak ada siapapun.
      Pak Tohir sudah jelas lagi keluar rumah.

      "ggrrrrrrr ..." seketika tubuhku merinding. bulu kudukku berdiri.
      aku mencoba mengambil langkah. satu persatu aku jejakan kakiku mundur menjauhi lelaki itu.

      aku mengambil sebuah pemukul di pojok. aku teringat pesan ayahku.


    • Kamiluddin Azis Lanjutin cerita Dedi Prestiadi boleh ya... Ya Tuhan, lelaki itu berusaha menggapaiku. Kelebatan cahaya di belakang punggungku rupanya berasal dari kilatan benda tajam yang menempel di leher lelaki itu. Ya, sebilah pisau menancap di lehernya. Darah bercuruan tiada henti, meninggalkan bau amis yang memuakkan.

    • Marlyn SaimaruChrist BlueAngel Dari komentar kak "Dedi Prestiadi":

      Dapat kutangkap bayang pria itu dari biasan sinar rembulan. Dia tampak panik. Dengan yakin dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya menatap ke pemukul yang kupegang, mengisyaratkanku untuk tak melayangkannya ke arahnya.

      Tapi ia terlambat.

      BUK!

      Sebuah pukulan tepat mengenai pundaknya. Lelaki itu sekilas masih menatapku. Tatapannya sendu.

      Namun akhirnya, badannya terkulai lemas. Aku masih membeku. Berkelebat rasa ragu dalam diriku untuk mendekatinya.


    • Marlyn SaimaruChrist BlueAngel Owalah. Aku bingung.
      @.@
      kayaknya aku ngalah deh. Hehehe.


    • Dedi Prestiadi Marlyn SaimaruChrist BlueAngel aku tak boleh diam begini. sekarang dia sudah lemas tak berdaya. pemukul yang aku hujamkan membuat ia terjatuh pingsan tak berdaya.

      aku ambil sebuah senter di almari.
      dengan perlahan aku dekati lelaki itu,

      tapi aku sangat kagett..


    • Kamiluddin Azis ‎"Toni?!" Adikku yang baru pulang dari luar kota itu, kini tergolek tak berdaya. Luka robek yang menganga di lehernya membuat ia kehabisan darah dan napas. Aku menyesal telah memukulnya. Apakah aku telah membunuhnya?

    • Erik MataLoro Tapi, pemandangan berikutnya membuatku ngeri...
      .
      Ia - bahkan bernapas pun terasa menyakitkan - mencoba berdiri. Benar, kedua tangannya menopang tubuhnya. Ia seperti hendak menghadapku dalam keadaan sempurna. Tapi setiap gerakan yang ia perbuat bagaikan tusukan tajam yang menghujam jantungku. Aku ceapt-cepat menghampirinya, membopong tubuhnya yang renta akibat kehabisan darah sekaligus tenaga.

      "K-kk-kka-kakak..."

      Oh Tuhan, ia bicara. Ia begitu esakitan, dan masih bisa bicara...

      "Kkke-kk-kee-kkenapa...?"
      .
      (hehe, ikutan ngelanjutin! ^^)


    • Dedi Prestiadi Erik MataLoro sungguh tak kusangka sangka..
      aku sangat menyesal atas apa yang telah aku lakukan. kini adikku telah lemas darah terus mengalir dari lubang yang menganga. sementara aku tak bisa berbuat apa-apa. pendangan dia kosong. astagAAAAAa.!, Aku sangat kaget, nafasnya kini terengah-engah.. kulit dinginnya mengucur deras dari pori-pori kulit arinya.
      "oh Tuhan, Apa yang telah aku perbuat..." peluh mengalir deras menetes deras membasahi baju adiku yang berlumuran darah...


    • Marlyn SaimaruChrist BlueAngel Dari komentar kak "Dedi Prestiadi":

      Air mataku mulai merabunkan penglihatanku. Masih kudekap ia dalam pelukanku. Rasa bersalah yang begitu pekat.

      Lampu tiba-tiba menyala. Tampak samar dari penglihatanku, tapi sebuah bayangan dengan panik mendekatiku.

      "Den, kenapa den Toni?" suara Pak Tohir dengan logat jawanya.

      Aku hanya mampu menggeleng perlahan. Tak sanggup kutahan air mataku yang kembali mengucur.

      "Ayo Den! Kita bawa Den Toni ke rumah sakit!" ajak Pak Tohir dengan sigap mengangkat kepala Toni.

      Segera kuikuti apa yang Pak Tohir lakukan. Pikiranku kosong. Aku tak mampu memikirkan apapun. Sementara dihadapanku, kulihat Toni yang meringis kesakitan dan wajah panik Pak Tohir.


    • Dedi Prestiadi ‎"brummzzzz.." ambulans berlari kencang... sirine meraung-raung di keheningan malam..

    • Qaqa Nyuruel Nyebhli Dari komentar kak "Dedi Prestiadi"

      Sengatan malam serasa menusuk nadiku, rasa bersalah masih terus menghujamku. Bertahanlah Toni. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit.


    • Marlyn SaimaruChrist BlueAngel Dari komentar "Qaqa Nyuruel Nyebhli":

      Ketika raungan ambulance berhenti, secepat kilat tandu itu diangkut para suster kedalam rumah sakit. Aku sendiri masih terpaku. Perlahan aku turun.

      "Tuhaan!!!"

      Itulah satu-satunya jeritan yang mampu kuucapkan.

      Sekilas kudengar suara tegas dokter di ruang ICU.

      "Jantungnya melemah!"

      Astaga Tuhan! Aku semakin merasa bersalah. Tuhan! Selamatkan Toni.


    • Kamiluddin Azis Toni berdiri menatap jasadnya sendiri yang sudah terbujur kaku

    • Qaqa Nyuruel Nyebhli Lanjutan komentar Ka "Kamaludin Azis"

      "Apakah aku telah meninggal Tuhan? Aku belum sempat berpamitan dengan Kakak. Izinkanku kembali untuk berpamitan dengan Kakak. Aku mohon" Pinta Toni yang tak dapat didengar siapa pun.


    • Kamiluddin Azis Aku yang memang dibekali kelebihan dapat melihat makhluk yang sudah meninggal, tersentak melihat Toni menatap ke arahku.

    • Qaqa Nyuruel Nyebhli Lanjutan komentar ka Kamaludin Azis"

      "Toni? Apa yang kau lakukan? Kau sangat pucat? Apa yang terjadi? Apakah kau akan meninggalkan Kakak?"
      Tanyaku kepada arwah Toni.


    • Kamiluddin Azis ‎"Maafkan Kakak telah memukulmu.". Toni menggelengkan kepala seolah sedang memberi tahu aku kalau kematiannya bukan disebabkan oleh pukulanku. "Lalu siapa yang telah menusukmu, Ton?"

    • Qaqa Nyuruel Nyebhli Lanjutan komentar ka "Kamaludin Azis"

      Sesungguhnya ada yang ganjal di villa itu Kak. Entah apa itu aku tak mengerti.
      Sosok hitam itu mencekram leherku tiba-tiba. Aku yang terus memberonta membuatnya kalap dan menusukku dengan pisau yang ia pegang. Sungguh ini bukan salahmu Ka." Jelas Toni.


    • Dedi Prestiadi Kamiluddin Azis "yang kakak pukul memang pencuri itu.." gumam Toni..

      di kegelapan aku, di sekap dari belang oleh si pencuri itu. sebelum dia di pukul oleh kakak dan kabur lewat jendela..


Meskipun cuplikan cerpen kemudian terputus, tetapi minimal kemudian muncul ide-ide segar dari para sahabat inspirasi untuk membuat sebuah kolaborasi karya dengan sahabat lainnya.

Selamat berkarya ya sahabat dan gandeng sahabat lain untuk membuat sebuah karya yang inovatif dengan cara yang lebih kreatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar